Sabtu, 16 Juli 2016

Arab Saudi bukan Negara Islam, Tapi Penjual Islam. Benarkah?

Sumber foto:banjarwangi.com
Dilansir dari arrahmahnews.com, Arab Saudi, negara penjaga dua tempat suci dan negara yang paling dibanggakan umat muslim dunia dikatakan bukan negara Islam, tetapi negara penjual Islam. Benarkan demikian, biar pembaca sendiri yang menyimpulkan. Waallahua'alambissawab..!
Berikut ulasannya, Salah satu kehebatan negara Saudi adalah keberhasilannya dalam menipu kaum Muslim, seakan-akan negaranya merupakan cerminan dari negara Islam yang menerapkan al-Quran dan Sunnah. Keluarga Kerajaan juga menampilkan diri mereka sebagai pelayan umat hanya karena di negeri mereka ada Makkah dan Madinah yang banyak dikunjungi oleh kaum Muslim dari penjuru dunia.

Saudi juga terkesan banyak memberikan bantuan kepada kelompok Islam maupun negeri-negeri Islam untuk mencitrakan mereka sebagai pelayan umat dan penjaga dua masjid suci (Khadim al-Haramain). Akan tetapi, citra seperti ini semakin pudar mengingat sepak terjang keluarga Kerajaan selama ini, terutama persahabatannya dengan AS yang mengorbankan (nyawa, harta dan negara) kaum Muslim.
Orang-orang awam selama ini menjadi korban dari berita-berita penipuan yang sengaja disebarkan oleh para pemuja Kerajaan Arab Saudi. Kaum Muslimin lupa, bahwa yang menjadi penguasa Makkah dan Madinah saat ini adalah Keluarga Kerajaan (Aly Saud) yang mengusung paham Khawarij dan Mujasim, bukan Ahlussunnah. 

Karena paham Ahlussunnah wal jama’ah tidak pernah menghalalkan pengkafiran, pembid’ahan, pemusyrikan dan penghalalan darah serta harta kaum muslimin. Hal ini justru menjadi ciri khas kaum Wahabi Takfiri atau yang di zaman ini sebagai perwujudan kaum Khawarij dan Mujasim modern. Jargon mereka yang terkenal adalah “Kembali kepada Quran dan Sunnah“ maksudnya adalah kembali kepada pemahaman Quran dan Sunnah ala mereka, bukan ala Nabi Saw, para sahabatnya yang mulia dan para ulama salafus shalih.

Siapa pun yang menguasai Makkah dan Madinah sudah pasti mereka akan memelihara dan menjaga dua kota suci tersebut. Sudah sedari dulu, siapa pun penguasanya mereka pasti akan selalu membantu negara-negara Muslim lainnya. Tetapi yang sangat aneh, mengapa Kerajaan Arab Saudi tidak pernah memberi bantuan kepada Palestina? Bahkan mereka malah bermanis-ria dengan Zionis dalam pertemuan-pertemua rahasia, Apakah ini yang dikatakan negara Islam yang menjalankan al-Quran dan as-Sunnah?

Setelah kekalahan telak yang dialami pasukan Muhammad ibn Sa’ud oleh pasukan Islam dari kekhalifahan Turki Utsmani pada tahun 1815. Muhammad ibn Sa’ud beserta beberapa anggota kelurganya di tawan dan di bawa ke kota Kairo dan kemudian dipindahkan ke Konstantinopel ibukota kekhalifahan Turki Utsmani. Muhammad ibn Sa’ud dan anggota keluarganya di arak untuk dipertontonkan kepada kaum muslimin bahwa ia adalah otak dari pemberontakan sekaligus Dajjal yang telah membunuhi ribuan kaum muslimin yang tidak berdosa di jazirah Arab. Kemudian kepalanya dipenggal dan tubuhnya dipertontonkan kepada kerumunan kaum muslimin yang marah karena ulahnya. Sedangkan sisa-sisa keluarganya di penjara di kota Kairo.

Kurang lebih 87 tahun kemudian, pada tahun 1902 cucunya Muhammad ibn Sa’ud yang bernama Abdul Aziz bin Abdurrahman ibn Sa’ud yang kabur ke Turki memulai kembali usaha untuk mengembalikan kejayaan Klan Sa’ud yang pernah dirintis oleh kakeknya. Dengan bantuan Klan As-Sabah di Kuwait dan campur tangan Inggris akhirnya mereka mulai melakukan invasi berdarahnya kembali. Pada tahun 1953 Ibnu Sa’ud mati dan digantikan oleh Raja Sa’ud dan kemudian Raja Faisal.
Rajutan cinta yang dahulu terputus dengan kerajaan Inggris akhirnya bersemi kembali. Hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa perjanjian atau traktat dengan pihak kerajaan Inggris melalui beberapa surat yang dikirimkan oleh pemimpin Salafi Wahabi pada tanggal 13 Juni 1913 kepada wakil Inggris Percy Cox sebagai berikut :

وبالنظر إلى مشاعرى الودية تجاهكم أودّ أن تكن علاقاتى معكم كالعلاقات الّتى كانت قائمة بينكم وبين اسلافى كما أودّ أن تكون قائمة بينى وبينكم
“Dan dengan melihat perasaan cintaku kepada kalian, aku sangat berharap hubunganku dengan kalian seperti hubungan-hubungan yang telah lama terjalin antara kalian dengan para leluhurku, sebagaimana aku sangat berharap hubungan itu tetap terjalin (baik) antara aku dengan kalian “

Dalam Muktamar al-Aqir tahun 1927 M / 1341 H di distrik Ahsaa telah ditanda tangani sebuah perjanjian resmi antara pihak Wahabi dengan pemerintah Inggris. Tertulis dalam kesepakatan itu kalimat-kalimat yang ditorehkan oleh pimpinan Wahabi yang berbunyi :

… أقرّ وأعترف ألف مرة للسّير برسى كوسى مندوب بريطانيا العظمى لامانع عندى من إعطاء فلسطين لليهود أو غيرهم كما تراه بريطانيا التى لا أخرج عن رأيها حتى تصيح الساعة

“ Aku berikrar dan mengakui 1000 kali kepada Sir Percy Cox wakil Britania Raya, tidak ada halangan bagiku (sama sekali) untuk memberikan Palestina kepada Yahudi atau yang lainnya sesuai dengan keinginan Inggris, yang mana aku tidak akan keluar dari keiginan Inggris sampai hari kiamat “ 

Bahkan ketika pecah perang yang dilancarkan Israel pada bulan Juni 1967 kepada sebagian negara-negara Arab dengan dukungan Amerika dan Eropa barat, pemimpin Wahabi baru datang dari negara-negara Barat itu menyampaikan pidato pada tanggal 6 Juni sebagai berikut :

ايها الإ خوان لقد جئتكم من عند إخوان لكم فى أمريكا وبريطانيا وأو روبا تحبونهم ويحبوننا
“Wahai saudara-saudaraku, aku (baru saja) datang dari saudara-saudara kalian di Amerika, Britania, dan Eropa. Kalian mencintai mereka, dan mereka pun mencintai kalian “

Kemudian pada tahun 1969, saat diwawancarai koran Washington Post, pimpinan Wahabi mengakui adanya kedekatan khusus dengan kaum Zionis Israel, lalu berkata :

إننا واليهود إبناء عم خلص, ولن ترضى بقذفهم فى البحر كما يقول البعض, بل نريد التعايش معهم بسلام
“Sesungguhnya kami dengan bangsa Yahudi adalah sepupu. Kami tidak akan rela melemparkan mereka ke laut sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian orang, melainkan kami ingin hidup bersama mereka dengan penuh kedamaian “

Para peneliti sejarah aliran Wahabiyah telah membuktikan bahwa  untuk memurnikan tauhid hanyalah sebuah slogan yang dibentuk atas perintah langsung kementrian Urusan Penjajahan Kerajaan Inggris. Setelah mendapatkan kaum muslimin yang dapat dijadikan sebagai boneka-boneka bodohnya, kemudian konspirasi penjajah Eropa Yahudi mengirimkan berbagai keperluan operasional, logistik, tentara bayaran dan istruktur-instruktur tentara bayaran yang disupport sepenuhnya oleh kekuatan sekutu untuk mendukung gerakan Wahabi yang dimotori oleh Muhammad Ibnu Sa’ud dan Muhammad ibnu Abdil Wahhab dalam melakukan pemberontakan terhadap kekhalifahan Turki Ottoman yang sah dengan impian tingginya untuk mendirikan Haikal Sulaiman di tanah al-Haramain.

Gilanya lagi, setelah tertangkap basah dan terekam secara sah oleh sejarah dan zaman, mereka masih membela diri dengan berkata : “Kami memberontak karena kekhalifahan Turki Ottoman sudah korup, banyak kemaksiatan yang terjadi, negara sudah tidak stabil” dan banyak ucapan lainnya yang mereka buat untuk menghalalkan sesuatu yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Dan logika sederhananya adalah, apabila dikarenakan kekhalifahan Turki Ottoman sedemikian carut marutnya sehingga halal memberontak, maka lebih halal pula memberontak di kerajaan Saudi Arabia sekarang. Karena keadaan negara mereka yang dipenuhi dengan sejarah pembunuhan, pembantaian, siksaan terhadap para ulama, bayi dan ibunya disembelih ketika digendong, sebagaimana yang terekam dengan baik dalam kitab-kitab sejarah Islam.

Gerakan Wahabi yang didanai oleh Inggris dan Yahudi ini banyak memaksa kaum muslimin untuk menjadi tentara mereka. Ada sebuah camp tempat pelatihan yang dinamakan dengan Hajar al-Arkawiyah di mana para intruktur militer dari negara Inggris melatih daya tempur mereka dan menancapkan doktrin pada para pengikutnya, bahwa siapa pun orang Islam yang tidak bermazhab Wahabi adalah kafir dan halal darahnya.

Padahal orang-orang Inggris ini pun tidak semazhab dengan mereka, tidak se-tauhid dengan mereka, bahkan mereka benar-benar kafir mutlak tetapi mana berani para Wahabi menganggapnya kafir dan menghalalkan darah mereka? Mereka lebih mencintai orang-orang Inggris yang memperbudak mereka, dan lebih membenci kaum musimin yang berbeda dengan mereka. Padahal Iblis saja tidak pernah menaruh rasa benci sebesar ini terhadap umatnya Nabi Saw.

Mereka yang sudah digembleng menjadi tentara pembunuh menjadi hilang rasa kemanusiaannya, dan berubah total menjadi mesin pembunuh yang sadis dan paling biadab, mirip dengan tentara Hulagu Khan atau yang menghabisi kekhalifah Dinasti Abbasiyah secara keji dan biadab atau mirip dengan tentara Serbia yang membantai ratusan ribu warga muslim di Bosnia Herzegovina.

Untuk mengelabui kaum muslimin di masa yang akan datang mereka memberikan identitas kepada para pembunuh dan tentara bayarannya sebagai berikut :
  1. Mereka menamakan mesin perangnya dengan sebutan al-Ikhwan
  2. Mereka menamakan peperangannya dengan sebutan Jihad
  3. Mereka menamakan penyerbuannya dengan sebutan Ghazawat
  4. Mereka menamakan kemenangannya dengan sebutan Futuhat
  5. Mereka menamakan prajuritnya yang mati dengan sebutan Syuhada
  6. Menamakan musuhnya dari kaum muslimin dengan nama kaum kafir
Lihatlah pengelabuan dan pemutarbalikkan fakta yang mereka lakukan terhadap syariat dan kaum muslimin saat ini. Benar-benar sempurna kelicikan dan tipu daya mereka ini. Semoga laknat Rasul-Nya abadi bagi mereka. Sekte terlicik di muka bumi ini kemudian menutupi kebejatan serta kebiadaban mereka dengan menisbatkan mazhabnya kepada Imam Ahmad bin Hanbal, sehingga sebagian para kyai dan ulama yang tidak menyelami mazhab Imam Ahmad pun mengamini dan mengimaninya. Terlebih masyarakat awam yang pengetahuannya sangat dangkal.

Padahal dakwah yang dijalankan oleh Wahabi dan pengikutnya ini merupakan kedok untuk menutupi jaringan konspirasi dan kerja sama busuk mereka dengan kaum penjajah Eropa yang membawa sekalian dendam kesumat atas kekalahan mereka di perang Salib lalu. Karena untuk membantai kaum muslimin secara langsung dengan tangan mereka tidak mungkin, maka mereka menggunakan boneka-bonekanya yang bodoh dan dungu ini dengan dalil “Ijtihad“, yang benar ijtihadnya mendapatkan pahala dua, dan yang salah mendapatkan pahala satu. Jadi bagi kaum Salafi Wahabi ini, membunuh kaum muslimin akan mendapatkan pahala karena berdasarkan ijtihad ulama mereka katanya.

Lebih ekstremnya lagi, ketika mereka sudah merasa kuat (dengan dukungan pemerintah dan sebagian partai politik), maka propaganda mereka jalankan dengan terang-terangan, bahkan tak jarang sampai pada perebutan atau penguasaan lahan dakwah seperti mesjid, mushalla, majlis ta’lim di kantor-kantor, atau minimal merintis kumpulan pengajian tandingan baik di tempat-tempat tersebut maupun di rumah-rumah.

Akibatnya, tanpa disadari mereka sudah menguasai berbagai sarana kegiatan dakwah di beberapa komplek perumahan, dan telah merebut anggota jama’ah pengajian para ustad di wilayah setempat, yang berbuntut pada terganggunya hubungan silaturrahmi antara anggota jama’ah tersebut.

Tidak sampai di sana saja, bahkan mereka pun membuat gerakan pengajian ibu-ibu yang dinamakan “ Liqa “. Yang menurut sumber yang paling shahih berada dalam garis manajemen Partai Keadilan Sosial (PKS). Mereka mendakwahkan kepada para ibu-ibu untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang berbasis khilafah, bukan UUD dan Pancasila. Kemudian lambat-laun mereka mulai memasuki ranah khilafiyah seperti Yasinan, Tahlilan, Ziarah Kubur, Istighatsah, Shalawatan, Maulid Nabi dan hal-hal yang selama ini mereka anggap pelakunya adalah ahli neraka.

Jadi bagaimana kita bisa mengatakan gerakan ini adalah gerakan pemersatu umat dan bangsa ? Mereka adalah gerakan aktif yang akan melumatkan apa pun yang mereka anggap tidak sejalan dengan batok kepala mereka. Mereka adalah pemecah belah umat berdasarkan kajian historis dan analisis hadits.

Secara resmi negara Saudi  ini memperingati kemerdekaannya pada tanggal 23 September 1932. Pada saat itulah, tahun 1932 Kerajaan Saudi Arabia (al-Mamlakah al’Arabiyah as-Su’udiyah). Abdul Aziz pada saat itu berhasil menyatukan dinastinya, menguasai Riyadh, Nejd, Hasa, Asir, dan Hijaz. Abdul Aziz juga berhasil mempolitisasi pemahaman Wahabi untuk mendukung kekuatan politiknya.

Sejak awal, Dinasti Sa’ud secara terbuka telah mengumumkan dukungannya dan mengadopsi penuh ide Wahabi yang dicetuskan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang kemudian dikenal dengan gerakan Wahabi. Dukungan ini kemudian menjadi kekuatan baru bagi dinasti Sa’ud untuk melakukan perlawanan terhadap Khilafah Utsmaniyah. (Jadi jelaslah, bahwa Kerajaan Saudi Arabia yang dirajai oleh Abdul Aziz dan keturunannya sampai sekarang tidak pernah mengadopsi paham Ahlussunah wal jama’ah yang dibawa oleh para imam mazhab, bahkan mereka mengkafirkan seluruh imam mazhab dan penganutnya).

Hanya saja, keberhasilan Dinasti Sa’ud ini tidak lepas dari bantuan Inggris. Mereka bekerjasama untuk memerangi pemerintahan Khilafah Islamiyah. Sekitar tahun 1792-1810, dengan bantuan Inggris mereka berhasil menguasai beberapa wilayah di Damaskus. Hal ini membuat Khilafah Islamiyah harus mengirim pasukannya untuk memadamkan pemberontakan ini.

Fase pertama, pemberontakan Dinasti Sa’ud berhasil diredam setelah pasukan Khilafah Islamiyah berhasil merebut kota ad-Diriyah. Pada tahun 1902, ketika kekuatan Khalifah Islamiyah melemah, Abdul Aziz menyerang dan merebut kota Riyadh dengan bantuan Inggris.

Pada tahun 1916, Abdul Aziz menerima 1300 senjata dan 20.000 keping emas dari Inggris. Mereka juga berunding untuk menentukan perbatasan negerinya, yang ditentukan oleh Percy Cox, utusan Inggris. Percy Cox mengambil pensil dan kertas kemudian menentukan (baca : memecah belah) perbatasan negeri tersebut.

Tidak hanya itu, Inggris pun membantu Ibnu Sa’ud saat terjadi perlawanan dari Duwaish (salah satu suku dari Nejd). Suku ini menyalahkan Ibnu Sa’ud yang dianggap terlalu menerima inovasi Barat. Sekitar tahun 1927-1928, angkatan Udara Inggris dan pasukan Ibnu Sa’ud mengebom suku tersebut. Mengingat kerja sama mereka yang sangat erat, Inggris memberi gelar kebangsawanaan “Sir“ untuk Abdul Aziz bin Abdurrahman.

Adapun persahabatan Saudi dengan AS diawali dengan ditemukannya ladang minyak di negara itu. Pada 29 Mei 1933, Standart Oil Company dari California memperoleh konsesi selama 60 tahun. Perusahaan ini kemudian berubah nama menjadi Arabian Oil Company pada tahun 1934. Pada mulanya, pemerintah AS tidak begitu peduli dengan Saudi. Namun, setelah melihat potensi besar minyak negara tersebut, AS dengan agresif berusaha merangkul Saudi. Pada tahun 1944, Deplu AS menggambarkan daerah tersebut sebagai “Sumber yang menakjubkan dari kekuatan strategi dan hadiah yang terbesar dalam sejarah duni”.

Untuk kepentingan minyak, secara khusus wakil perusahaan Aramco, James A. Moffet, menjumpai Presiden Roosevelt (April 1941) untuk mendorong pemerintah AS memberikan pinjaman utang kepada Saudi. Utang inilah yang kemudian semakin menjerat negara tersebut menjadi  “budak“ AS. Pada tahun 1946, Bank Ekspor-Impor AS memberikan pinjaman kepada Saudi sebesar $100 juta dolar. Tidak hanya itu, AS juga terlibat langsung dalam “membangun“ Saudi menjadi negara modern, antara lain dengan memberikan pinjaman sebesar $100 juta dolar untuk pembangunan jalan kereta api yang menghubungkan ibukota dengan pantai timur dan barat. Tentu saja, utang ini kemudian semakin menjerat Saudi sampai sekarang.

Konsesi lain dari persahabatan Saudi-AS adalah penggunaan pangkalan udara selama tiga tahun oleh AS pada tahun 1943 yang hebatnya hingga saat ini terus dilanjutkan. Pangkalan Udara Dhahran menjadi pangkalan militer AS yang paling besar dan lengkap di Timur Tengah. Hingga saat ini, pangkalan ini menjadi basis strategi AS, terutama saat menyerang negeri Muslim Irak dalam Perang Teluk II. Penguasa Kerajaan Saudi dengan “ sukarela “ membiarkan wilayahnya dijadikan basis AS untuk membunuhi sesama Muslim. AS pun kemudian sangat senang dengan kondisi ini.

Kerajaan Arab Saudi sebagai trah Zionis Yahudi menjadi pendukung penuh AS baik secara politis maupun ekonomis dalam Perang Teluk II. Saudi juga mendukung serangan AS ke Afganistan dan berada di sisi Amerika untuk memerangi teroris. Untuk membuktikan kesetiaannya itu, Saudi pada tanggal 17 Juni 2002 mengumumkan bahwa aparat keamanan- nya telah menahan enam orang warga negaranya dan seorang warga Sudan yang di dakwa menjadi angota al-Qaeda. Tujuh orang itu didakwa berencana untuk menyerang pangkalan militer Amerika dengan rudal SAM-7.

Masih dalam rangka kampanye AS ini, Saudi menghabiskan jutaan dolar untuk membuat opini umum, antara lain lewat iklan bahwa Saudi adalah mitra AS dalam “perang anti terorisme “ (K.Com, Newsweek, 03/05/2002). (Padahal seluruh dalang penjajahan dan teror di tanah Arab seperti di Iraq, Libya, Mesir dan Suriah  adalah Arab Saudi dan AS).

Penguasa Saudi juga dikenal kejam terhadap kelompok-kelompok Islam yang meng- kritisi kekuasaannya. Banyak ulama berani dan salih yang dipenjarakan hanya karena mengkritik keluarga Kerajaan dan pengurusannya terhadap umat. Tidak hanya itu, tingkah polah keluarga kerajaan dengan gaya hidup kapitalisme sangat menyakitkan hati umat. Mereka hidup bermewah-mewah, sementara pada saat yang sama mereka membiarkan rakyat Irak dan Palestina hidup menderita akibat tindakan AS yang terus menerus dijadikan Saudi sebagai mitra dekat.

Benarkah Saudi merupakan negara Islam? Jawabannya “Tidak sama sekali“ Apa yang dilakukan oleh negara ini justru banyak yang menyimpang dari syariat Islam. Beberapa bukti antara lain :
Pertama, berkaitan dengan sistem pemerintahan, dalam pasal 5.a Konstitusi Saudi ditulis : Pemerintah yang berkuasa di Kerajaan Saudi adalah Kerajaan. Dalam sistem Kerajaan berarti kedaulatan mutlak ada di tangan raja. Rajalah yang berhak membuat hukum. Meskipun Saudi menyatakan bahwa negaranya berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah, dalam praktiknya, dekrit rajalah yang paling berkuasa dalam hukum (bukan al-Quran dan as-Sunnah). Sementara itu, dalam Islam bentuk negara adalah Khilafah Islamiyah, dengan kedaulatan ada di tangan Allah Swt, rasul-Nya dan orang-orang yang berilmu (para ulama).

Kedua, dalam sistem Kerajaan, rajalah yang juga menentukan siapa penggantinya, biasanya adalah anaknya atau dari keluarga dekat, sebagaimana tercantum dalam pasal 5.c : Raja memilih penggantinya dan diberhentikan lewat dekrit kerajaan. Siapa pun mengetahui, siapa yang menjadi raja di Saudi haruslah orang yang sejalan dengan kibijakan AS. Sementara itu, dalam Islam, Khalifah di pilih oleh rakyat secara sukarela dan penuh keridhaan.

Ketiga, dalam bidang ekonomi, dalam praktiknya, Arab Saudi menerapkan sistem ekonomi kapitalis. Ini tampak nyata dari diperbolehkannya riba (bunga) dalam transaksi nasional maupun internasional di negara itu. Hal ini tampak dari beroperasinya banyak bank “ribawi“ di Saudi seperti “ The British-Saudi Bank, American-Saudi Bank, dan Arab-National Bank. Hal ini dibenarkan berdasarkan bagian b pasal 1 undang-undang Saudi yang dikeluar- kan oleh Raja (no.M/5 1386 H).

Keempat, demi alasan keamanan keluarga kerajaan, pihak kerajaan Saudi Arabia telah menghabiskan 72 miliar dolar dalam kontrak kerjasama militer dengan AS. Saat ini lebih dari 5000 personel militer AS tinggal di Saudi. Sungguh sangat berakal dan beradab membiarkan musuh-musuh Islam berkonspirasi di negaranya, sedangkan banyak hal yang dapat dilakukan untuk Palestina, Irak, Suriah, Libya, Afganistan dengan 72 miliar dollar, hal ini dilakukan oleh Kerajaan Saudi karena lebih mencintai Amerika dan musuh-musuh Islam daripada mencintai negara muslim.

Apa yang terjadi di Saudi ini hanyalah salah satu contoh di antara sekian banyak contoh para penguasa Muslim-Yahudi yang melakukan pengkhianatan kepada umat. Tidak jarang para pengkhianat umat ini menamakan rezim mereka dengan sebutan negara Islam, negara yang berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah, meskipun pada praktiknya jauh dari Islam.

Begitu juga para partai pendukungnya akan melakukan iklan agamis yang sama : partai yang bersih walaupun tidak bersih, partai yang jujur walaupun isinya para penipu dan koruptor, partai yang agamis walaupun sebenarnya tidak paham agama, dan banyak lagi slogan-slogan yang mencitrakan kebaikan itu hanya berada pada partai mereka. Kenalilah bahwa sesungguhnya partai-partai seperti ini justru menjadi partai pembohong dan pendu- kung abadi musuh-musuh Islam.

Sesungguhnya kebenaran itu tidak datang dalam seketika, tetapi ketika kebenaran itu datang sikapilah dengan kesadaran, kedinamisan akal sehat anda, dan tanyalah kepada hati nurani terdalam, apakah pantas partai yang mengatasnamakan Islam mendukung musuh-musuh abadi Islam?

Tidaklah akal seseorang itu tercerahkan setelah datangnya cahaya hidayah. Sedangkan penolakan terhadap cahaya hidayah merupakan pengingkaran terhadap pemberi hidayah itu sendiri. Tidak ada pilihan lain bagi kita, kecuali  menghadapi dan menghancur- kan musuh-musuh Islam, baik yang tersurat ataupun yang tersirat dengan segala bentuk potensi yang diberikan Allah Swt kepada kita semua.

Jelas sekali bahwa gerakan Zionisme Internasional mengerahkan segenap daya dan kekuatannya begitu juga pendukungnya untuk menumpas umat Islam, pemilik bumi yang kaya dengan sumber alam. Dengan segala cara, Zionisme berusaha mengeksploitasi kekayaan alam negara Islam. Mereka menyebarkan pemikirannya yang dapat memalingkan umat muslim dari pilar-pilar kekuatannya. Mereka pun menimbulkan perpecahan dalam barisan umat Islam.

Musuh-musuh Islam melakukan berbagai tindakan batil dalam seluruh aspek kehidupan. Telah beredar mata uang Zionis yang dicetak dengan gambar menara Israel dan peta Israel Raya. Peta itu meliputi Lebanon, Yordania, dua pertiga wilayah Suriah, tiga perempat wilayah Irak, dan seperempat wilayah Saudi Arabia, bahkan sampai ke Madinah dan Makkah.  Kalaulah kita sedikit cermat mengamatinya, bukankah daerah-daerah tersebut yang sekarang sedang diperebutkan dan berusaha dikuasai oleh ISIS?

Semua dunia mengetahuinya, bahwa ISIS adalah teroris yang berkedok agamis dengan akidah Wahabi dibelakangnya. PBB pula yang menyerukan kepada kerajaan Saudi Arabia untuk menarik mundur 20.000 tentara bayarannya dari Suriah dan Irak. Jadi jelaslah, bahwa ISIS yang berakidah Wahabi adalah kaki tangan Zionis Israel yang dibiayai oleh kerajaan Saudi Arabia.

Kaum Zionis harus menyadari bahwa mereka sedang mengemis untuk mendapatkan bumi yang telah dijaga kaum muslimin selama 14 abad. Kaum muslimin tidak akan pernah berhenti untuk merebutnya kembali meskipun pihak yahudi melancarkan serangan demi serangan dengan hebatnya.

Zionis menulis kalimat Lailaaha illallah di celana dalam, menulis- kan lafdzul Jalalah di alas kaki, dan mencetak surat awal Maryam di kertas pembungkus barang-barang belanjaan. Hal ini bukanlah kebodohan baru yang dilakukan Yahudi sepanjang sejarahnya. Semua itu karena dorongan dendam terhadap kaum muslimin dan bangsa Arab yang dalam kurun waktu sejarah lalu justru telah melindungi mereka dan memperlakukan mereka dengan baik.

Di Palestina dewasa ini orang-orang Israel menghancurkan bangunan-bangunan bersejarah, berbagai peninggalan kehidupan masa silam, dan warisan kebudayaan yang tidak ternilai. Sebagaimana ISIS pun melakukan penghancuran terhadap kota-kota kuno, bangunan dan artefak bersejarah yang berasal dari ribuan tahun yang lalu atas perintah Yahudi. Mereka pun menghancurkan pusat-pusat informasi dan membakar kepustakaan langka.

Hal yang sama pula dilakukan oleh kerajaan Saudi Arabia pada tahun 1924 untuk membakar perpustakaan terutama perpustakaan Maktabah Arabiyah di Makkah al-Mukarramah di mana mereka membakar kurang lebih 60.000 kitab-kitab langka dan sekitar 40.000 yang masih berupa manuskrip yang sebagiannya merupakan hasil diktean sahabat dari baginda Nabi Saw.

Di antara buku-buku itu masih ada yang berupa kulit kijang, tulang belulang, pelepah kurma, pahatan dan lempengan-lempengan tanah. Tidak berhenti sampai di situ, mereka pun menyerang  perpustakaan yang berada di Hadramaut Yaman dan mem- bakar seluruh kitab yang berada di perpustakaan itu.


Tindakan ini dilakukan karena merasa tersudut oleh sejarah dan tidak berkutik oleh fakta-fakta yang terdapat di dalam buku-buku sejarah. Bangsa Yahudi terdorong melakukan semuanya itu semata-mata karena kedengkian terhadap Islam, kemurkaan terhadap segenap pemeluknya, dan berkeingnan melukai tubuh dan perasaan mereka. 

Sumber: arrahmahnews.com

Penyelamat Rapa’i Tuha di Nagan Raya


Ditengah pesatnya kemajuan seni yang bernuansa teknologi, hanya segelintir saja yang masih setia pada kesenian lama, contohnya saja Rapa’i Tuha, salah satu kesenian keagamaan sebagai cerminan kearifan lokal yang telah ada di Aceh semenjak zaman kerajaan dulu. Jika ketidak pedulian lenyap bersama angin maka hanya sisa wujud dalam sepotong cerita yang tertinggal…
Lelaki tua yang masih terlihat gagah itu , terlihat sangat hati-hati mengecat lingkaran kayu Rapa’i Tuha di ruang tamu rumah berdinding papan miliknya.  Namannya Haji Teungku Sagop. Masyarakat setempat sering memanggil kakek tua ini dengan sebutan  Teungku Sagop. Diusia 70 tahun, veteran Republik Indonesia masih sangat aktif melestarikan kesenian Rapa’i Tuha sebagai warisan budaya di Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh.
Di  Nagan Raya, penyuka warna-warna gelap ini mempunyai grub Rapa’i Tuha yang bernama Kilat Fajar. Tepatnya di Kemukiman Krueng Neuang, Kecamatan Beutong. Grub yang beranggota 22 orang ini telah berdiri sejak 2008 lalu. Semenjak bediri hingga hari ini, Grub Rapai Tuha Kilat Fajar tersebut telah banyak mengisi kegiatan keagamaan maupun kebudayaan di Nagan Raya, bahkan sesekali grup bentukan Tgk. Sagop juga sering mengisi acara kebudayaan di luar daerah.
Sekilas berbicara tentang Rapa’i kita tentu teringat akan Rapa’i Geleng, sebuah tarian etnis Aceh yang berasal dari wilayah Aceh Bagian Selatan tepatnya Manggeng, yang sekarang masuk kawasan Kabupaten Aceh Barat Daya. Tetapi sebenarnya, sangat jauh berbeda antara kesenian Rapa’i Geleng dengan Rapa’i Tuha di Nagan Raya.
Rapa’i Geleng adalah tarian yang mengekspresikan dinamisasi masyarakat dalam syair yang dinyanyikan, kostum dan gerak dasar dari unsur Tari Meuseukat. Sementara Rapa’i Tuha merupakan kesenian yang sarat akan keagamaan yang diringi dengan zikir sebagai syairnya.
Sebagai pimpinan atau Khalifah dalam istilah Rapa’i Tuha, Tgk. Sagop yang juga veteran Republik Indonesia ini selalu setia menyempatkan waktunya untuk merawat Rapa’i setiap anggota kelompoknya. Hal ini terlihat ketika ditemui AcehNews.Net di kediamannya.
Dengan cekatan dia memperbaiki pinggiran salah satu Rapa’i yang telah dianggapnya rusak, “Nyoe Rapa’i peninggalan Tu Jameun (ini Rapa’i peninggalan Ayah saya dulu),” katanya sambil mengetes suara Rapa’i dengan memukul pinggirannya. Rapa’I Tuha warisan sang ayah yang berusia sekira puluhan tahun itu terus dirawatnya. Sebagai pusaka yang terus dijaga hingga akhir hayat.
Lelaki yang suka mengenakan kupiah ini kembali melanjutkan pembicaraanya tentang Rapa’I Tuha. Dia menjelaskan, penampilan Rapa’i Tuha hanya untuk doa. Khususnya di Nagan sebutnya untuk Nagan Raya, penggunaan Rapa’i Tuha hanya untuk kenduri, seperti pada malam ketujuh dan malam ke empat puluh orang meninggal. Selain itu, untuk khanduri blang (sawah) serta melepaskan nazar (Peulheuh Kaoy) masyarakat juga sering memakai jasa grub Rapa’i Tuha yang dipimpinnya.
Untuk sekedar latihan, mareka melakukan secara bergiliran pada setiap Kamis malam di rumah anggota. “kamoe latihan tip malam Jum’at, bergiliran di rumoeh anggota (kami latihan setiap malam Jumat, bergiliran di rumah anggota),”jelasnya. Sementara untuk uang operasional, grup ini masih mengandalkan keikhlasan dari tiap anggota untuk menyumbang dan menanggung konsumsi ketika rumahnya jadi giliran pada Kamis malam tersebut.
Menurutnya, sekarang peminat Rapa’i Tuha sangat sedikit, dan ditakutkan suatu saat ini generasi muda akan kehilangan kesenian Rapa’i Tuha ini. Perhatian pemerintah pun dikatakan sangat minim terhadap Rapa’i Tuha, mungkin dikarenakan grub rapa’i yang dipimpinya bukan kesenian seperti Rapa’i Geleng yang bisa ditampilkan pada acara-acara seremonial kepemerintahan.
Jino kanit ureung yang galak keu Rapa’i Tuha, karena nyo ken Rapa’i Geleng yang ditampilkan bak acara pemerintah (kini sudah sedikit orang yang menyenangi Rapa’i Tuha karena ini bukan Rapa’i Geleng yang ditampilkan pada acara pemerintah),demikian kata Tgk. Sagop, sang veteran penyelamat Rapa’i Tuha di Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh. 
Sumber: Acehnews.net

Raja Aceh Tukar Istri dengan Raja Johor

helloacehku.com

KISAH keberadaan dua kerajaan, Aceh dan Johor, hingga kini masih menyimpan banyak misteri. Terutama soal kisah Putri Kamaliah dari Pahang dengan Puteri Sendri Ratna Indra dari Aceh.
Alkisah, dari berbagai sumber disebutkan, kerajaan Aceh sekitar tahun 1619 berhasil menaklukan sebahagian Malaka, seperti Keudah, Johor, Perak, dan Pahang, dari Bangsa Portugis.
Berbagai sumber menyebutkan bahwa usai penaklukan, keluarga istana Johor bersama sekitar 10.000 penduduknya berimigrasi ke Aceh untuk memperkuat pasukan Sultan Iskandar Muda.
Sumber lainnya menyebut bahwa mereka memang ditawan, termasuk Putri Kamaliah, Tun Sri Lanang dan Raja Abdullah atau orang Aceh menyebutnya dengan nama Raja Radin atau Raja Raden.
Raja Abdullah sendiri, disebutkan sebagai Raja Johor. Sementara Puteri Kamaliah merupakan istri dari Raja Abdullah.
Konon, guna menguatkan politik antara Aceh-Johor, Raja Abdullah kemudian menceraikan Puteri Kamaliah. Setelah melewati masa iddah, Putri Kamaliah dinikahkan oleh Sultan Iskandar Muda. Oleh rakyat Aceh, Puteri Kamaliah digelar dengan Putroe Phang atau puteri dari Pahang.
Sejumlah catatan sejarah, juga menulis bahwa Sultan Iskandar Muda juga menceraikan salah satu istrinya, Puteri Sendi Ratna Indra, untuk dinikahkan oleh Raja Abdullah.
Benarkah demikian? Sayangnya, kisah tukar isteri atau perkawinan politik kedua raja ini tidak memiliki referensi yang kuat, serta manuskip serta fakta sejarah lainnya.
Dosen sejarah Universitas Syiah Kuala, TA Sakti, menyebutkan bahwa kisah tersebut belum tentu kebenarannya.
Menurutnya, dalam satu versi, Putri Kamaliah disebutkan, sebelum dinikahkan Sultan Iskandar Muda, memang isteri dari Raja Abdullah.
“Jadi Puteri Kamaliah diceraikan Raja Abdullah Mu’ayatsyah untuk dinikahkan Sultan Iskandar Muda. Sementara Sultan Iskandar Muda memberikan adiknya, yang disebut Putroe Hijao, untuk dinikahkan oleh Sultan Abdullah,” kata TA Sakti.
“Jadi yang dinikahi Raja Abdullah bukan Puteri Sendi Ratna Indra, melainkan Putroe Hijao. Putro Hijao adik Sultan Iskandar Muda. Ini berdasarkan hikayat Malem Dagang,” ujarnya lagi.
Sementara itu, kata TA Sakti, dalam buku sejarah resmi Malaysia, yang dikarang oleh Haji Bujung Adil, disebutkan bahwa Puteri Kamaliah memang ditawan oleh Kerajaan Aceh.
“Versi Malaysia disebutkan bahwa Kerajaan Johor dan Pahang sudah Islam sebelum diserang Aceh. Namun kerajaan Johor memang dekat Portugis. Puteri Kamaliah sendiri cuma disebutkan sebagai keluarga Bangsawan dari Pahang. Tak dijelaskan istri siapa-siapa. Johor sendiri pernah menyerang Pahang,” ujar TA Sakti.
Sementara itu, Rusdi Sufi, sejarawan Aceh lainnya, mengaku tak memiliki referensi yang kuat mengenai pernikahan sultan Aceh dan raja Johor tersebut.
“Namun Aceh memang beberapa kali menyerang Johor,” ujarnya.
Sumber sejarah Malaysia, kata TA Sakti, juga menulis bahwa Raja Abdullah kemudian kembali menceraikan Putroe Hijau. Keadaan ini terjadi saat Raja Abdullah kembali dekat dengan Portugis.
“Saya tidak mengetahui apakah kata cerai itu hanya simbol sebagai lepas dari Aceh atau bukan,” ujarnya.
Sedangkan Mizuar Mahdi dari Mapesa, mengatakan kisah pertukaran istri Raja Aceh dan Johor, tidak didukung dengan fakta sejarah yang kuat.
“Saya memang sudah membaca cerita ini. Tapi belum ada manuskip yang kita temukan yang mendukung cerita tadi. Kita mengkaji berdasarkan fakta serta bukan hikayat. Fakta-fakta sejarah yang kita temukan sendiri berbeda jauh dengan hikayat yang berkembang saat ini,” ujar Mizuar.
Sejarahwan Aceh lainnya, A Rahman Kaoy, mengatakan ada beberapa istri Iskandar Muda.
Pertama, kata A Rahman Kaoy, adalah Putri Sani, anak dari Daeng Mansur, seorang Raja Bugis.
Kedua, kata A Rahman Kaoy, adalah Putri Asiah dari Bireuen. Kelak anak dari Putri Asiah menjadi raja di Tanjung Balai, Asahan.
Ketiga adalah Putri Kamaliah dari Pahang. Ke empat adalah Putri Hijau dari Takengon. Terakhir putri dari Afrika.
“untuk putri dari Afrika, bukan permaisuri tapi selir,” ujarnya.
A Rahman Kaoy sendiri, mengaku tak bisa memastikan apakah Putroe Hijau atau Hijou dari Takengon adalah Puteri Sendi Ratna Indra atau bukan. []

Sumber: Mediaaceh.co

Sabtu, 09 Mei 2015

INI FKIP KITA, SUDAH CUKUP KITA DIAM

Oleh : KITA untuk KITA
Kembali kita dipertotonkan dalam tontonan yang sama, kita seperti diseret dalam kepentingan mareka. Mareka yang katanya berbuat untuk kepentingan FKIP kita, dan akan melakukan sesuatu untuk FKIP kita. Sebagai orang yang awam dalam masalah BEM ini, tapi kita sudah bosan dengan permainan mareka, berapa kali mareka telah melakukan yang menurut mareka untuk kejayaan FKIP. Tapi apa yang terjadi, dan Kita kembali mendengar info bahwa berberapa minggu lagi pemilihan BEM FKIP akan di lakukan. Dan ini sudah yang kesekian kali mareka lakukan. Jika kita lihat sejarah perlu kita tanyakan BEM yang kemarin telah mareka pilih itu kemana ? apa sekedar di angkat saja kemudian ketika tidak sesuai dengan keinginan beberapa golongan kemudian diturunkan.
Kawan-kawan pasti ingat yang namanya Jalil kan, mahasiswa FKIP Kesenian yang terpilih menjadi BEM pada Peimira tahun lalu. Lihat bagaimana yang terjadi sama dia, siapa yang salah. Dia diturunkan yang katanya ada kecurangan dimana terjadi pemalsuan transkrip akademik. Ia sih kejahatan tidak boleh di tutupi, dan yang melakukan kecurangan harus ada sangsi. Tapi dibalik itu semua, jika itu kesalahan kenapa itu biasa terjadi dikampus yang katanya semua serba teknologi. Mustahil transkrip bisa dikelabui jika tidak ada konspirasi di dalamnya, tapi kita juga tidak boleh berprasangka buruk dalam hal ini. Bagi kita juga tidak ada imbasnya, tapi walaupun demikian berapa dana yang dihabiskan dalam Pemira yang hasilnya nol besar tersebut. Jutaan kawan-kawan, bukan dana yang sedikit.
Pertanyaanya, Dari mana dana tersebut diambil? dari Dekan ? dari Mareka ? atau dari Abang-abang yang jualan di Kantin Kolam ?
Bukan kawan-kawan, dana tersebut dari kita, dana dari orang tua kita yang kita bayar untuk SPP perkuliahan dan dikelola oleh Universitas yang kemudian sebagiannya disisipkan untuk kegiatan mahasiswa yang akhirnya buat mareka. Dan sayangnya kita tidak merasakan apa-apa dalam hal ini, walaupun ini mewakili mahasiswa FKIP tapi hanya mareka saja yang bermain.
Tidak cukup disitu saja, beberapa bulan yang lalu PEMIRA ulang kembali dilakukan, dan Aulia terpilih menjadi BEM FKIP kita. Dan itu juga memerlukan dana yang lumayan besar. Namun setelah sukses dengan kemenangan aklamasi, tapi Aulia juga kembali dibungkam seperti hilang ditelan arus kantin kolam. Tidak terdengar lagi namanya sekarang, kemana dia ? kemana orang-orang yang mendukungnya. Apa dia juga kembali diturunkan karena tidak sesuai permintaan sang tuan ?.
Ini pertanyaan besar bagi kita kawan-kawan. Siapa yang bermain dibelakang layar sebenarnya, belum cukupkah kita dibuat sebagai boneka yang dipermainkan seperti kemauan mareka. Sudah cukup kita DIAM, Kita harus berani mengatakan TIDAK pada segala ketidak jelasan ini.
Kita juga mahasiswa FKIP, walaupun kita bukan aktifis dan tidak terlibat seperti mareka. Tapi nama kita telah dijual oleh mareka, setidaknya mareka membawa nama mahasiswa FKIP, dan mahasiswa FKIP itu adalah Kita. Bukan cuma segelintir mareka.
Mungkin bagi kita ini tidak penting, toh nyatanya nanti kita juga hanya penonton dan bisa jadi kita juga dipolitisi oleh mareka. Namun perlu diketahui juga, saya sendiri sependirian dengan kawan-kawan, bagi saya sesuatu yang tidak penting tidak akan saya lakukan. Saya fokus dengan apa yang saya cita-citakan.
Tapi dengan permasalahan seperti ini, kita dituntut untuk bergerak, tidak ada lagi yang bisa kita percaya. Sebagai mahasiswa kita juga punya tanggung jawab dalam hal ini, setidaknya pada diri kita sendiri. Kita harus berani menentukan dan berani mengambil keputusan siapa yang layak kita jadikan pemimpin kita, yang tentunya bukan orang yang mempolitisi kita. Orang yang berani memperjuangkan hak-hak kita, hak-hak mahasiswa yang terlupakan dan hak-hak mahasiswa yang terpinggirkan.
Kita membutuhkan pemimpin yang bisa jadi panutan, yang berwawasan, tidak hanya pandai dalam bertorika tetapi juga dalam tindakan. Walaupun kita bukan mahasiswa yang aktif berorganisasi, tapi sebagai calon pemimpin kita kedepan harus mempunyai Background organisasi yang jelas, tidak lahir dari organisani abal-abalan. karena itu pemimpin mahasiswa yang berintektulitas bukan pemimpin para preman jalanan.
Semoga dengan tulisan sederhana ini, dapat membuka cakrawala pemikiran kawan-kawan. Semoga kita tidak lagi terpenjara dalam kepentingan pemikiran orang lain dan kita tetap merdeka dengan pemikiran kita sendiri.
CUKUP KITA DIAM, karena ini RUMAH KITA

Jumat, 08 Mei 2015

SI HITAM YANG BIKIN INSPIRASI

Oleh : Oga Umar Dhani
“Hitam, Pait, manakutkan bagi sebagian orang tetapi menggoda bagi penikmatnya” inilah secuil pendapat tetang gambaran kopi. Ada juga yang mengatakan belum laki jika tidak ngopi walaupun wanita sebenarnya juga suka kopi, belum Indonesia jika kopi saja tidak kenal seperti yang dikatakan Bg Iwan “itu kebiasaan lama orang Indonesia” sampe-sampe di suruh bongkar, hehehe (Bongkar Kebiasaan lama,!)
Jika dilihat dari sudut pandang sejarah, sejak kopi pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1696 yang dibawa oleh Belanda dari Malabar India, rakyat Indonesia sudah mulai mengembangbiakkannya di Batavia, namun mengalami kegagalan dikarenakan banjir. Tetapi pada tahun 1699 bibit baru kembali di datangkan yang kemudian mulai tersebar seantero Indonesia.
Selain untuk di konsumsi pribadi kopi juga sangat menjanjikan dalam ekonomi, sehingga tidak heran jika perkebunan kopi menjamur di Indonesia, mulai dari masa kolonial sampai hari ini.
Sedangkan untuk mengosumsinya, kopi biasa dibuat menjadi bubuk kemudian diseduh dengan air panas baru diminum dengan tambahan sedikit pemanis biar tidak terlalu pait. meminum kopi bagi orang Indonesia sering disebut Ngopi. Dan berbicara tentang ngopi juga mempunyai cerita unik, walaupun itu tidak ditemukan bukti tertulis tetapi dapat dirasionalkan sehingga cerita itu kemungkinan besar memang benar-benar terjadi. Khususnya di Aceh, mengenai awal mula rakyat mengenal ngopi adalah ketika Belanda masih berkuasa, sebenarnya ngopi dianjurkan untuk mensiasati rakyat untuk meminum air panas, karena sebelumnya masyarakat mengosumsi air yang tertampung dalam kendi tanah. Karena sebelumnya kematian rakyat sangat tinggi, setelah diteliti sebagian besar masalahnya adalah air. Solusinya adalah rakyat harus memanasi dulu jika ingin meminumnya. Biar rakyat mau Belanda menawarkan minuman baru yaitu kopi. Bermula dari itulah kopi menjadi kebiasaan orang Aceh, baik dipagi hari, siang maupun malam kopi sudah menjadi teman sejati.
Dan hari ini, trend ngopi terus berkembang. Malah jika dilihat dari sudut pandang ekonomi, bisnis yang menjanjikan adalah warung kopi. Dikarenan penikmat kopi tidak terbatas baik golongan tua, pemuda, mahasiswa, maupun remaja yang tidak kenal akhir bulan maupun awal bulan tetap nongkrong di warung kopi. Maka tempat untuk ngopi semakin bertambah sehingga tidak heran jika kita lewat dijalanan kota Banda Aceh tiada jalan yang tidak ada warung kopi. Sehingga sangat wajar jika ada yang menyebut Aceh itu negeri 1001 warung kopi.
Inspirasiku lahir dari secangkir kopi, hehe.. terdengar candaan kawan. Tetapi inilah yang terjadi jika kita lebih mendalami. Karena setiap orang berbeda dalam menikmati hidupnya. Tetapi yang tidak bisa diterima adalah ketika dikaitkan antara kopi dan rokok. Kedua hal yang sangat berbeda tetapi saling disatukan. Tetapi bagi saya dilahirkan kopi bukan untuk menamani rokok, kopi tetap untuk manusia yang ingin mengekspresikan dirinya.
Memang benar kopi itu membuat candu, tetapi saya sedikit mengajak kawan-kawan merenungi betapa banya manusia di dunia ini memulai harinya dengan secangkir kopi, betapa banyak manusia menjalin silaturahmi lewat ngopi, melepas penat kerja juga dengan ngopi, mengawali bisnis sering juga di warung kopi dan banyak hal-hal lain yang dilakukan maunusia ada kaitannya dengan ngopi.
Mungkin akan sangat ekstrem ketika kita katakan negara ini terbentuk juga bermula dari ngopi, tetapi juga tidak bisa kita bantah jika dulu dalam membicarakan kemerdekaan petinggi bangsa ini sambil ngopi, hehe. Tetapi inilah kopi, dia hitam, dia pait, tapi bisa menyatukan manusia untuk melahirkan insprirasi.

EMAS BEUTONG DIKUASAI DUA PERUSAHAN BESAR ASING

Oleh : Oga Umar Dhani
Belum lagi tuntas masalah kontroversi modal Perusahan Daerah Pembangunan Aceh (PDPA) yang akan mengelola Sumber Daya Alam (SDA) gas bumi Blok Pase kini nama Aceh dalam bidang kekayaan Alam kembali mencuat di berbagai media baik lokal maupun nasional. Tetapi kali ini mengenai emas di Beutong, Kabupaten Nagan Raya yang mana daerah ini juga dikenal sebagai penghasil Batu Mulia terbaik di Aceh (Giok Nagan). Seperti yang diberitakan prusahan asal Kanada, Kalimantan Gold sudah berkongsi dengan Tigers Realm Metals asal Australia yang juga rekanan Surya Paloh dimana mempunyai 60 % saham di dalamnya untuk mengeruk logam mulia di Beutong.
Beutong Banggalang adalah sebuah kecamatan yang ada di Nagan Raya, letaknya diantara penggunungan Lauser dan berbatasan lansung dengan Aceh Tengah. Untuk menuju daerah tersebut dari kota Suka Makmu ibukota Nagan Raya membutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan melewati medan yang berat dengan penggunungannya. Kehidupan perekonomian masyarakat umumnya bercocok tanam baik dalam pertanian sawah maupun perkebunan. Berdasarkan sumber berita Tribunnews pada kamis 22 Januari 2015, sumber daya yang ada di Beutong terdiri dari 93 ton, yang terdiri dari 1,24 miliar pounds tembaga, 373.000 ounce (oz) emas, 5,7 juta oz perak, dan 20 juta poun molybdenium. Sungguh sumber daya yang menjanjikan untuk dieksploitasi oleh kedua perusahan ini. Dalam pernyataan tersebut pihak perusahan juga mengatakan jika proses perizinan cepat selesai maka 2 atau 3 tahun kedepan perusahan ini akan beroperasi.
Sebelumnya pemerintah Nagan Raya telah memberi izin pada tahun 2006 kepada PT Emas Mineral Murni (EMM) di lokasi garapan Desa Blang Puuk, Kecamatan Beutong Banggalang dengan nomor 545/68/KP-EKSPLORASI/2006 dengan kuasa pertambangan Eksplorasi NR.1 Map 06 dimana izin survei selama delapan tahun. Dan pada tahun 2012 lalu Owen Hegarty pengusaha pertambangan Australia dari kelompok Tigers Realms Group yang sekarang berkongsi dengan Kalimantan Gold juga membuat pernyataan mencengangkan di Koran The Australian dimana Owen mengatakan perusahannya baru saja melakukan survei temuan kandungan emas-tembaga di Beutong, Nagan Raya. Dimana angkanya mencapai 500 juta ton. Agaknya dengan pernyataan yang menjanjikan tersebut sekarang pihak Kalimantan Gold bersedia mengakuisasi 40 % saham pada pertambangan emas Beutong.
Penggabungan kedua perusahan Besar ini yang mana kedua-duanya berasal dari luar negeri (asing) maka pertambangan emas Beutong akan dapat di operasionalkan semaksimal mungkin. Tetapi pertanyaannya siapkan Aceh khususnya Kabupaten Nagan Raya mengawasi laju pertambangan ini. Karena sebelumnya pada tahun 2013 tokoh masyarakat Beutong juga pernah mendatangi Kantor Serambi Indonesia untuk menolak pertambangan emas yang di lakukan oleh perusahan EMM di Beutong dengan alasan karena perusahan tersebut tidak bermanfaat bagi masyarakat juga merusak lingkungan. Hal ini terjadi karena pihak perusahan tidak memberikan kesempatan kerja pada masyarakat setempat.
Tetapi sekarang emas Beutong dikelola oleh dua perusahan besar dan Surya Paloeh (putera Aceh) juga ada didalamnya. Tentu rakyat berharap hadirnya kedua perusahan ini dapat mensejahterakan mareka. Akan tetapi harapan rakyat ini akan terjadi jika pemerintah daerah serius dalam menangani bidang pertambangan.
Masalah kekayaan alam adalah masalah besar yang dapat membuat rakyat sejahtera tetapi juga dapat membuat rakyat sengsara dimana konflik sosial akan terjadi jika kesejahteraan rakyat daerah tambang tidak diperhatikan. Kita ambil contoh seperti yang terjadi di era tahun 1970 an dulu di Aceh Utara pada perusahaan tambang Gas Bumi Arun. Karena rakyat tidak diperhatikan maka gejolak sosial terjadi karena mareka bernggapan Pemerintah Pusat berkerjasama dengan Asing hanya mengeruk kekayaan Alam saja tetapi tidak memberi keutungan kepada rakyat disekelilingnya. Protes ini juga salah satu faktor besar yang menjadi pemicu konflik bersenjata antara Aceh dan Pemerintah Pusat. Puncaknya setelah Muhammad Hasan Tiro memploklamirkan Aceh Merdeka pada 04 Desember 1976. Karena pada masa ini rakyat menganggap pemerintah pusat hanya menjadikan Aceh sebagai sapi perahan untuk pembangunan pusat. Konflik ini dapat terselesaikan pada tahun 2005 dengan perjanjian MoU Helsingky.
Belajar dari sejarah, kita takutkan jika Pemerintah dan pihak perusahaan tidak memperhatikan kesahteraan daerah tambang maka konflik sosial akan terulang kembali. Mengingat Beutong adalah salah satu yang mempunyai luka sejarah pada era konfik dulu dimana pada tahun 1999 terjadi pembantaian terhadap TGK. Bantaqiah dan santrinya di pasantren Babul Mukarramah. Walaupun kejadian ini telah berlangsung puluhan tahun lalu tetapi bukan tidak mungkin karena masalah kesenjangan sosial ekonomi sangat sensitif untuk membuat konflik terjadi. Dan hal ini tentu sangat tidak ingin kita alami di tengah perdmaian dan kesejahteraan yang telah kita peroleh saat ini.
Kita bisa melihat pertambangan emas Freeport di Papua yang di kelola oleh Amerika yang telah beroperasi mulai tahun 1967 dan juga perusahan asing pertama yang mendapat izin beroperasi di Indonesia. Sekarang sudah 48 tahun berjalan tetapi dapat kita lihat sendiri bagaimana kehidupan di Papua. Dengan transportasi terbatas dan kesejahteraan masih kurang menyeluruh dirasakan dan juga komflik sosial yang tidak pernah kunjung padam, dimana rakyat Papua yang merasa kurang puas dengan pemerintah pusat memberontak membentuk kesatuan Organisasi Papua Merdeka. Walaupun pemerintah pusat telah menyalurkan otonomi khusus seperti Aceh tetapi tetap saja perkembangan lambat terjadi disana.
Mengenai emas yang ada di Beutong, jikapun perusahaan berjanji akan memperkerjakan putera daerah juga menjadi masalah tersendiri bagi perusahan dan masyarakat setempat. Dikarenakan berbicara masalah tambang adalah sarat akan ilmu pengatahuan moderen bagian tambang yang mana harus diperoleh melalui tahapan pendidikan yang terstruktur dari bidang tambang itu sendiri. Jika kita lihat dilapangan maka putera daerah disana tidak mempunyainya dan sudah pasti jikapun diperkerjakan maka mareka tetap sebagai buruh kasar yang mana tidak ubah seperti berkerja pada bangunan walaupun di tempat mareka kekayaan alam itu dikeruk. Dan kemungkinan untuk digusur juga akan ada jika perusahan memperoleh sumber daya baru disekitar warga. Walaupun biaya kompensasi diberikan tetapi permasalahan akan tetap ada seperti halnya masyarakat Aceh Utara yang menuntut pada PT Arun beberapa bulan yang lalu.
Hal ini adalah masalah serius yang akan dihadapi pemerintah, karena apapun yang terjadi tetap pemerintah yang mengambil peran penting dalam kegiatan di daerahnya. Jangan nanti hanya orang-orang tertentu yang memperoleh keuntungan dibalik pertambangan tersebut. pemerintah daerah harus mampu mengelola pendapatan daerah melalui pertambangan untuk mensejahterakan rakyatnya, bila perlu dengan memberikan subsidi bagi masyarakatnya. Masalah lain yang harus diketahui juga adalah mengenai alam didaerah Beutong itu sendiri. Dikarenakan Beutong adalah daerah asri yang terletak diantara perbukitan dimana dikelilingi oleh penggunungan Lauser yang merupakan kawasan hutan lindung. Jika dilihat dari daerah survei yang dilakukan oleh perusahan Tigers Realm Metals dulu maka sudah memasuki kawasan hutan lindung. Ditakutkan proses ekplotasi nanti juga demikian dan sangat disanyangkan jika hutan lindung itu juga menjadi imbas dari praktik pertambangan ini. Untuk itu peran pemerintah dan LSM yang bergerak di bidang Alam khususnya kehutanan juga ikut mengawasi dan mengiringi perkembangan pertambangan ini.
Jika permasalahan ini semua dapat di atasi oleh pemerintah, maka kehadiran perusahan emas ini sangat membantu untuk laju perkembangan daerah dan dapat meningkatkan pendapatan Negara. Tetapi tindak penegak hukum juga harus ketat mengawasi kinerja pemerintah daerah. Karena bukan tidak mungkin dalam praktek kelancaran perjalanan Perusahan praktik-praktik yang buruk akan terjadi. Untuk itu KPK harus mengiringi tokoh-tokoh pemerintah dimana daerah pertambangan berlangsung, jangan nanti Negara dirugikan hanya karena oknum-oknum tertentu.

Kamis, 08 Mei 2014

ACEH TERMAKAN SUMPAH INDATU

Aceh Termakan Sumpah Indatu?
Date: 06 March 2014 - 11:35 am, Viewer: 3362 




Akhir-akhir ini aksi kekerasan semakin meningkat di nanggroe Aceh menjelang pemilu. Jika merunut ke belakang, tanoh Aceh selalu bersimbah darah dan terlibat konlik, baik dengan pemerintah Jakarta, maupun perang saudara sesama orang Aceh. 
Saya tidak tahu apakah ini karena karakter masyarakat Aceh yang keras, atau ada sebab lain. 
Jika kita hitung selama masa kemerdekaan dari kurun 1945 hingga sekarang saja, sudah beberapa kali Aceh dilanda konflik. 
Yang paling fenomenal adalah Perang Cumbok. Terjadi pada 1946, ini konflik antara ulama dan bangsawan. Kaum ulama marah kepada sebagian bangsawan yang dianggap memihak Belanda. Tak sedikit kaum bangsawan yang dieksekusi tanpa proses pengadilan. Bahkan jasadnya tak sedikit yang dikubur di sumur-sumur tua. 
Setelah itu, tujuh tahun kemudian, giliran meletus perang DI/TII yang dipimpin Teungku Daud Beureuh. Daud kecewa pada Sukarno yang dianggapnya ingkar janji. Ini berlangsung selama 9 tahun. Daud Beureueh akhirnya turun gunung pada 6 Mei 1962, kembali ke pelukan ibu pertiwi. 
Berselang 14 tahun kemudian, muncul pemberontakan Hasan Tiro yang mendeklarasikan Gerakan Aceh Merdeka. Dimulai sejak 4 Desember  1976, GAM sepakat berdamai dengan pemerintah Indonesia pada 15 Agustus 2005. 
Kini, di usia perdamaian yang baru 9 tahun tahun, Aceh kembali bersimbah darah. Kali ini bukan melawan pemerintah Indonesia, melainkan sesama orang Aceh. 
Mengapa konflik seolah enggan beranjak dari bumoe Aceh. Ini perlu kajian antropolog yang lebih mendalam. 
Namun, dalam kebingungan itu menemukan tulisan tentang sumpah kerajaan Aceh ketika akan melawan agesi Belanda pada 1873.  
Pada 1872 Masehi, di dalam Masjid Baiturrahim Daruddunia (sekarang Masjid Raya), para pembesar kerajaan dan ulama membuat kesepakatan untuk berperang melawan Belanda. Kesepakatan tersebut kemudian dibungkus dalam sumpah yang dipimpin oleh Kadli Mu’adhdham Mufti Besar Aceh, Syekh Marhaban bin Haji Muhammad Saleh Lambhuk dengan disaksikan oleh para alim ulama Aceh. 
Sumpah tersebut berbunyi, “demi Allah, kami sekalian hulubalang khadam Negeri Aceh dan sekalian kami yang ada jabatan masing-masing kadar mertabat, besar kecil, timur barat, tunong baroh, sekalian kami ini semuanya, kami taat setia kepada Allah dan Rasul, dan kami semua ini taat setia kepada Agama Islam, mengikuti Syariat Nabi Muhammad Saw, dan kami semua ini taat setia kepada raja kami dengan mengikuti perintahnya atas yang hak, dan kami semuanya cinta pada Negeri Aceh, mempertahankan dari pada serangan musuh kecuali ada masyakkah, dan kami semua ini cinta kasih pada sekalian rakyat dengan memegang amanah harta orang yang telah dipercayakan oleh empunya milik. Maka jika semua kami yang telah bersumpah ini berkhianat dengan mengubah janji seperti yang telah kami ikrar dalam sumpah kami semua ini, demi Allah kami semua dapat kutuk Allah dan Rasul, mulai dari kami semua sampai pada anak cucu kami dan cicit kami turun temurun, dapat cerai berai berkelahi, bantah dakwa-dakwi dan dicari oleh senjata mana-mana berupa apa-apa sekalipun. Wassalam.” 
Sumpah ini kemudian dimasukkan dalam sarakata Baiat Kerajaan, bertulis tangan dengan huruf Arab. Naskahnya ditemukan kembali dalam dokumen peninggalan Wazir Rama Setia Kerajaan Aceh Said Abdullah Di Meulek. Naskah asli kini disimpan Said Zainal Abidin salah seorang keturunan Di Meulek, sementara foto kopinya ada di Pustaka Ali Hasjmy di Banda Aceh. (Referensi: Sumpah Kerajaan Aceh)

Pada 1 Muharram 1290 Hijriyah atau sekitar 1873 M, diambil sumpah tiga menteri inti. Tempatnya juga di dalam Masjid Istana Baiturrahim. Pengambilan sumpah dipimpin oleh Kadli Mukhaddam Syeh Marhaban bin Haji Saleh Lambhuk.  
Isinya sebagai berikut:
"Kami bersumpah, bahwasanya kami tiga orang sekali-kali tidak mau tunduk di bawah kekuasaan Holanda, dengan menyerah diri takluk di bawah kekuasaan siteru. Maka barangsiapa dalam tiga orang yang tersebut namanya dalam surat istimewa ini tunduk dan takluk ke bawah kekuasaan Holanda, maka ke atasnya kutuk Allah sampai pada anak cucunya masing-masing.”
Setelah selesai pengambilan sumpah, Kabinet Perang langsung mengeluarkan perintah hariannya yang ditujukan kepada semua hulubalang dan rakyat Aceh. Surat ini disampaikan oleh Wazir Rama Setia/Wakil Panglima Besar Angkatan Perang, Said Abdullah Teungku Di Meulek. Perintah harian tersebut berjudul Surat Nasehat Istimewa Keputusan Kerajaan Melawan Hollanda, tertanggal 1 Muharram 1290 H atau sekitar 1873 M. 
Salah satu bagian surat ini berbunyi:
"Maka barangsiapa yang tuan-tuan dan hulubalang-hulubalang memihak berdiri kepada Holanda dengan sengaja, yaitu tidak ada masyakkah, maka Insya Allah Taala akan datang pada suatu zaman yang kebili kebilui anak cucu tuan-tuan muntah darah dan dimandikan dengan darah oleh rakyat sendiri masing-masing, walau besar walau kecil." (Referensi: Perintah Perang Aceh)
Kita tahu, perkembangan berikutnya tak sedikit hulubalang Aceh yang berpihak pada Belanda, sampai kemudian meletuslah perang Cumbok pada 1946.
Saya kembali terpekur mengingat kondisi Aceh hari ini. Air mata saya tiba-tiba saja tak terbendung. Apakah Aceh termakan sumpah indatu? []

- See more at: http://atjehtoday.com/content/read/1835/Aceh-Termakan-Sumpah-Indatu#sthash.2z5hWTdC.dpuf