“Hitam, Pait, manakutkan bagi sebagian orang tetapi menggoda bagi penikmatnya” inilah secuil pendapat tetang gambaran kopi. Ada juga yang mengatakan belum laki jika tidak ngopi walaupun wanita sebenarnya juga suka kopi, belum Indonesia jika kopi saja tidak kenal seperti yang dikatakan Bg Iwan “itu kebiasaan lama orang Indonesia” sampe-sampe di suruh bongkar, hehehe (Bongkar Kebiasaan lama,!)
Jika dilihat dari sudut pandang sejarah, sejak kopi pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1696 yang dibawa oleh Belanda dari Malabar India, rakyat Indonesia sudah mulai mengembangbiakkannya di Batavia, namun mengalami kegagalan dikarenakan banjir. Tetapi pada tahun 1699 bibit baru kembali di datangkan yang kemudian mulai tersebar seantero Indonesia.
Selain untuk di konsumsi pribadi kopi juga sangat menjanjikan dalam ekonomi, sehingga tidak heran jika perkebunan kopi menjamur di Indonesia, mulai dari masa kolonial sampai hari ini.
Sedangkan untuk mengosumsinya, kopi biasa dibuat menjadi bubuk kemudian diseduh dengan air panas baru diminum dengan tambahan sedikit pemanis biar tidak terlalu pait. meminum kopi bagi orang Indonesia sering disebut Ngopi. Dan berbicara tentang ngopi juga mempunyai cerita unik, walaupun itu tidak ditemukan bukti tertulis tetapi dapat dirasionalkan sehingga cerita itu kemungkinan besar memang benar-benar terjadi.
Khususnya di Aceh, mengenai awal mula rakyat mengenal ngopi adalah ketika Belanda masih berkuasa, sebenarnya ngopi dianjurkan untuk mensiasati rakyat untuk meminum air panas, karena sebelumnya masyarakat mengosumsi air yang tertampung dalam kendi tanah. Karena sebelumnya kematian rakyat sangat tinggi, setelah diteliti sebagian besar masalahnya adalah air. Solusinya adalah rakyat harus memanasi dulu jika ingin meminumnya. Biar rakyat mau Belanda menawarkan minuman baru yaitu kopi. Bermula dari itulah kopi menjadi kebiasaan orang Aceh, baik dipagi hari, siang maupun malam kopi sudah menjadi teman sejati.
Dan hari ini, trend ngopi terus berkembang. Malah jika dilihat dari sudut pandang ekonomi, bisnis yang menjanjikan adalah warung kopi. Dikarenan penikmat kopi tidak terbatas baik golongan tua, pemuda, mahasiswa, maupun remaja yang tidak kenal akhir bulan maupun awal bulan tetap nongkrong di warung kopi. Maka tempat untuk ngopi semakin bertambah sehingga tidak heran jika kita lewat dijalanan kota Banda Aceh tiada jalan yang tidak ada warung kopi. Sehingga sangat wajar jika ada yang menyebut Aceh itu negeri 1001 warung kopi.
Inspirasiku lahir dari secangkir kopi, hehe.. terdengar candaan kawan. Tetapi inilah yang terjadi jika kita lebih mendalami. Karena setiap orang berbeda dalam menikmati hidupnya. Tetapi yang tidak bisa diterima adalah ketika dikaitkan antara kopi dan rokok. Kedua hal yang sangat berbeda tetapi saling disatukan. Tetapi bagi saya dilahirkan kopi bukan untuk menamani rokok, kopi tetap untuk manusia yang ingin mengekspresikan dirinya.
Memang benar kopi itu membuat candu, tetapi saya sedikit mengajak kawan-kawan merenungi betapa banya manusia di dunia ini memulai harinya dengan secangkir kopi, betapa banyak manusia menjalin silaturahmi lewat ngopi, melepas penat kerja juga dengan ngopi, mengawali bisnis sering juga di warung kopi dan banyak hal-hal lain yang dilakukan maunusia ada kaitannya dengan ngopi.
Mungkin akan sangat ekstrem ketika kita katakan negara ini terbentuk juga bermula dari ngopi, tetapi juga tidak bisa kita bantah jika dulu dalam membicarakan kemerdekaan petinggi bangsa ini sambil ngopi, hehe. Tetapi inilah kopi, dia hitam, dia pait, tapi bisa menyatukan manusia untuk melahirkan insprirasi.
Jumat, 08 Mei 2015
SI HITAM YANG BIKIN INSPIRASI
Oleh : Oga Umar Dhani
“Hitam, Pait, manakutkan bagi sebagian orang tetapi menggoda bagi penikmatnya” inilah secuil pendapat tetang gambaran kopi. Ada juga yang mengatakan belum laki jika tidak ngopi walaupun wanita sebenarnya juga suka kopi, belum Indonesia jika kopi saja tidak kenal seperti yang dikatakan Bg Iwan “itu kebiasaan lama orang Indonesia” sampe-sampe di suruh bongkar, hehehe (Bongkar Kebiasaan lama,!)
Jika dilihat dari sudut pandang sejarah, sejak kopi pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1696 yang dibawa oleh Belanda dari Malabar India, rakyat Indonesia sudah mulai mengembangbiakkannya di Batavia, namun mengalami kegagalan dikarenakan banjir. Tetapi pada tahun 1699 bibit baru kembali di datangkan yang kemudian mulai tersebar seantero Indonesia.
Selain untuk di konsumsi pribadi kopi juga sangat menjanjikan dalam ekonomi, sehingga tidak heran jika perkebunan kopi menjamur di Indonesia, mulai dari masa kolonial sampai hari ini.
Sedangkan untuk mengosumsinya, kopi biasa dibuat menjadi bubuk kemudian diseduh dengan air panas baru diminum dengan tambahan sedikit pemanis biar tidak terlalu pait. meminum kopi bagi orang Indonesia sering disebut Ngopi. Dan berbicara tentang ngopi juga mempunyai cerita unik, walaupun itu tidak ditemukan bukti tertulis tetapi dapat dirasionalkan sehingga cerita itu kemungkinan besar memang benar-benar terjadi.
Khususnya di Aceh, mengenai awal mula rakyat mengenal ngopi adalah ketika Belanda masih berkuasa, sebenarnya ngopi dianjurkan untuk mensiasati rakyat untuk meminum air panas, karena sebelumnya masyarakat mengosumsi air yang tertampung dalam kendi tanah. Karena sebelumnya kematian rakyat sangat tinggi, setelah diteliti sebagian besar masalahnya adalah air. Solusinya adalah rakyat harus memanasi dulu jika ingin meminumnya. Biar rakyat mau Belanda menawarkan minuman baru yaitu kopi. Bermula dari itulah kopi menjadi kebiasaan orang Aceh, baik dipagi hari, siang maupun malam kopi sudah menjadi teman sejati.
Dan hari ini, trend ngopi terus berkembang. Malah jika dilihat dari sudut pandang ekonomi, bisnis yang menjanjikan adalah warung kopi. Dikarenan penikmat kopi tidak terbatas baik golongan tua, pemuda, mahasiswa, maupun remaja yang tidak kenal akhir bulan maupun awal bulan tetap nongkrong di warung kopi. Maka tempat untuk ngopi semakin bertambah sehingga tidak heran jika kita lewat dijalanan kota Banda Aceh tiada jalan yang tidak ada warung kopi. Sehingga sangat wajar jika ada yang menyebut Aceh itu negeri 1001 warung kopi.
Inspirasiku lahir dari secangkir kopi, hehe.. terdengar candaan kawan. Tetapi inilah yang terjadi jika kita lebih mendalami. Karena setiap orang berbeda dalam menikmati hidupnya. Tetapi yang tidak bisa diterima adalah ketika dikaitkan antara kopi dan rokok. Kedua hal yang sangat berbeda tetapi saling disatukan. Tetapi bagi saya dilahirkan kopi bukan untuk menamani rokok, kopi tetap untuk manusia yang ingin mengekspresikan dirinya.
Memang benar kopi itu membuat candu, tetapi saya sedikit mengajak kawan-kawan merenungi betapa banya manusia di dunia ini memulai harinya dengan secangkir kopi, betapa banyak manusia menjalin silaturahmi lewat ngopi, melepas penat kerja juga dengan ngopi, mengawali bisnis sering juga di warung kopi dan banyak hal-hal lain yang dilakukan maunusia ada kaitannya dengan ngopi.
Mungkin akan sangat ekstrem ketika kita katakan negara ini terbentuk juga bermula dari ngopi, tetapi juga tidak bisa kita bantah jika dulu dalam membicarakan kemerdekaan petinggi bangsa ini sambil ngopi, hehe. Tetapi inilah kopi, dia hitam, dia pait, tapi bisa menyatukan manusia untuk melahirkan insprirasi.
“Hitam, Pait, manakutkan bagi sebagian orang tetapi menggoda bagi penikmatnya” inilah secuil pendapat tetang gambaran kopi. Ada juga yang mengatakan belum laki jika tidak ngopi walaupun wanita sebenarnya juga suka kopi, belum Indonesia jika kopi saja tidak kenal seperti yang dikatakan Bg Iwan “itu kebiasaan lama orang Indonesia” sampe-sampe di suruh bongkar, hehehe (Bongkar Kebiasaan lama,!)
Jika dilihat dari sudut pandang sejarah, sejak kopi pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1696 yang dibawa oleh Belanda dari Malabar India, rakyat Indonesia sudah mulai mengembangbiakkannya di Batavia, namun mengalami kegagalan dikarenakan banjir. Tetapi pada tahun 1699 bibit baru kembali di datangkan yang kemudian mulai tersebar seantero Indonesia.
Selain untuk di konsumsi pribadi kopi juga sangat menjanjikan dalam ekonomi, sehingga tidak heran jika perkebunan kopi menjamur di Indonesia, mulai dari masa kolonial sampai hari ini.
Sedangkan untuk mengosumsinya, kopi biasa dibuat menjadi bubuk kemudian diseduh dengan air panas baru diminum dengan tambahan sedikit pemanis biar tidak terlalu pait. meminum kopi bagi orang Indonesia sering disebut Ngopi. Dan berbicara tentang ngopi juga mempunyai cerita unik, walaupun itu tidak ditemukan bukti tertulis tetapi dapat dirasionalkan sehingga cerita itu kemungkinan besar memang benar-benar terjadi.
Khususnya di Aceh, mengenai awal mula rakyat mengenal ngopi adalah ketika Belanda masih berkuasa, sebenarnya ngopi dianjurkan untuk mensiasati rakyat untuk meminum air panas, karena sebelumnya masyarakat mengosumsi air yang tertampung dalam kendi tanah. Karena sebelumnya kematian rakyat sangat tinggi, setelah diteliti sebagian besar masalahnya adalah air. Solusinya adalah rakyat harus memanasi dulu jika ingin meminumnya. Biar rakyat mau Belanda menawarkan minuman baru yaitu kopi. Bermula dari itulah kopi menjadi kebiasaan orang Aceh, baik dipagi hari, siang maupun malam kopi sudah menjadi teman sejati.
Dan hari ini, trend ngopi terus berkembang. Malah jika dilihat dari sudut pandang ekonomi, bisnis yang menjanjikan adalah warung kopi. Dikarenan penikmat kopi tidak terbatas baik golongan tua, pemuda, mahasiswa, maupun remaja yang tidak kenal akhir bulan maupun awal bulan tetap nongkrong di warung kopi. Maka tempat untuk ngopi semakin bertambah sehingga tidak heran jika kita lewat dijalanan kota Banda Aceh tiada jalan yang tidak ada warung kopi. Sehingga sangat wajar jika ada yang menyebut Aceh itu negeri 1001 warung kopi.
Inspirasiku lahir dari secangkir kopi, hehe.. terdengar candaan kawan. Tetapi inilah yang terjadi jika kita lebih mendalami. Karena setiap orang berbeda dalam menikmati hidupnya. Tetapi yang tidak bisa diterima adalah ketika dikaitkan antara kopi dan rokok. Kedua hal yang sangat berbeda tetapi saling disatukan. Tetapi bagi saya dilahirkan kopi bukan untuk menamani rokok, kopi tetap untuk manusia yang ingin mengekspresikan dirinya.
Memang benar kopi itu membuat candu, tetapi saya sedikit mengajak kawan-kawan merenungi betapa banya manusia di dunia ini memulai harinya dengan secangkir kopi, betapa banyak manusia menjalin silaturahmi lewat ngopi, melepas penat kerja juga dengan ngopi, mengawali bisnis sering juga di warung kopi dan banyak hal-hal lain yang dilakukan maunusia ada kaitannya dengan ngopi.
Mungkin akan sangat ekstrem ketika kita katakan negara ini terbentuk juga bermula dari ngopi, tetapi juga tidak bisa kita bantah jika dulu dalam membicarakan kemerdekaan petinggi bangsa ini sambil ngopi, hehe. Tetapi inilah kopi, dia hitam, dia pait, tapi bisa menyatukan manusia untuk melahirkan insprirasi.
EMAS BEUTONG DIKUASAI DUA PERUSAHAN BESAR ASING
Oleh : Oga Umar Dhani
Belum lagi tuntas masalah kontroversi modal Perusahan Daerah Pembangunan Aceh (PDPA) yang akan mengelola Sumber Daya Alam (SDA) gas bumi Blok Pase kini nama Aceh dalam bidang kekayaan Alam kembali mencuat di berbagai media baik lokal maupun nasional. Tetapi kali ini mengenai emas di Beutong, Kabupaten Nagan Raya yang mana daerah ini juga dikenal sebagai penghasil Batu Mulia terbaik di Aceh (Giok Nagan). Seperti yang diberitakan prusahan asal Kanada, Kalimantan Gold sudah berkongsi dengan Tigers Realm Metals asal Australia yang juga rekanan Surya Paloh dimana mempunyai 60 % saham di dalamnya untuk mengeruk logam mulia di Beutong.
Beutong Banggalang adalah sebuah kecamatan yang ada di Nagan Raya, letaknya diantara penggunungan Lauser dan berbatasan lansung dengan Aceh Tengah. Untuk menuju daerah tersebut dari kota Suka Makmu ibukota Nagan Raya membutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan melewati medan yang berat dengan penggunungannya. Kehidupan perekonomian masyarakat umumnya bercocok tanam baik dalam pertanian sawah maupun perkebunan.
Berdasarkan sumber berita Tribunnews pada kamis 22 Januari 2015, sumber daya yang ada di Beutong terdiri dari 93 ton, yang terdiri dari 1,24 miliar pounds tembaga, 373.000 ounce (oz) emas, 5,7 juta oz perak, dan 20 juta poun molybdenium. Sungguh sumber daya yang menjanjikan untuk dieksploitasi oleh kedua perusahan ini. Dalam pernyataan tersebut pihak perusahan juga mengatakan jika proses perizinan cepat selesai maka 2 atau 3 tahun kedepan perusahan ini akan beroperasi.
Sebelumnya pemerintah Nagan Raya telah memberi izin pada tahun 2006 kepada PT Emas Mineral Murni (EMM) di lokasi garapan Desa Blang Puuk, Kecamatan Beutong Banggalang dengan nomor 545/68/KP-EKSPLORASI/2006 dengan kuasa pertambangan Eksplorasi NR.1 Map 06 dimana izin survei selama delapan tahun. Dan pada tahun 2012 lalu Owen Hegarty pengusaha pertambangan Australia dari kelompok Tigers Realms Group yang sekarang berkongsi dengan Kalimantan Gold juga membuat pernyataan mencengangkan di Koran The Australian dimana Owen mengatakan perusahannya baru saja melakukan survei temuan kandungan emas-tembaga di Beutong, Nagan Raya. Dimana angkanya mencapai 500 juta ton. Agaknya dengan pernyataan yang menjanjikan tersebut sekarang pihak Kalimantan Gold bersedia mengakuisasi 40 % saham pada pertambangan emas Beutong.
Penggabungan kedua perusahan Besar ini yang mana kedua-duanya berasal dari luar negeri (asing) maka pertambangan emas Beutong akan dapat di operasionalkan semaksimal mungkin. Tetapi pertanyaannya siapkan Aceh khususnya Kabupaten Nagan Raya mengawasi laju pertambangan ini. Karena sebelumnya pada tahun 2013 tokoh masyarakat Beutong juga pernah mendatangi Kantor Serambi Indonesia untuk menolak pertambangan emas yang di lakukan oleh perusahan EMM di Beutong dengan alasan karena perusahan tersebut tidak bermanfaat bagi masyarakat juga merusak lingkungan. Hal ini terjadi karena pihak perusahan tidak memberikan kesempatan kerja pada masyarakat setempat.
Tetapi sekarang emas Beutong dikelola oleh dua perusahan besar dan Surya Paloeh (putera Aceh) juga ada didalamnya. Tentu rakyat berharap hadirnya kedua perusahan ini dapat mensejahterakan mareka. Akan tetapi harapan rakyat ini akan terjadi jika pemerintah daerah serius dalam menangani bidang pertambangan.
Masalah kekayaan alam adalah masalah besar yang dapat membuat rakyat sejahtera tetapi juga dapat membuat rakyat sengsara dimana konflik sosial akan terjadi jika kesejahteraan rakyat daerah tambang tidak diperhatikan. Kita ambil contoh seperti yang terjadi di era tahun 1970 an dulu di Aceh Utara pada perusahaan tambang Gas Bumi Arun. Karena rakyat tidak diperhatikan maka gejolak sosial terjadi karena mareka bernggapan Pemerintah Pusat berkerjasama dengan Asing hanya mengeruk kekayaan Alam saja tetapi tidak memberi keutungan kepada rakyat disekelilingnya. Protes ini juga salah satu faktor besar yang menjadi pemicu konflik bersenjata antara Aceh dan Pemerintah Pusat. Puncaknya setelah Muhammad Hasan Tiro memploklamirkan Aceh Merdeka pada 04 Desember 1976. Karena pada masa ini rakyat menganggap pemerintah pusat hanya menjadikan Aceh sebagai sapi perahan untuk pembangunan pusat. Konflik ini dapat terselesaikan pada tahun 2005 dengan perjanjian MoU Helsingky.
Belajar dari sejarah, kita takutkan jika Pemerintah dan pihak perusahaan tidak memperhatikan kesahteraan daerah tambang maka konflik sosial akan terulang kembali. Mengingat Beutong adalah salah satu yang mempunyai luka sejarah pada era konfik dulu dimana pada tahun 1999 terjadi pembantaian terhadap TGK. Bantaqiah dan santrinya di pasantren Babul Mukarramah. Walaupun kejadian ini telah berlangsung puluhan tahun lalu tetapi bukan tidak mungkin karena masalah kesenjangan sosial ekonomi sangat sensitif untuk membuat konflik terjadi. Dan hal ini tentu sangat tidak ingin kita alami di tengah perdmaian dan kesejahteraan yang telah kita peroleh saat ini.
Kita bisa melihat pertambangan emas Freeport di Papua yang di kelola oleh Amerika yang telah beroperasi mulai tahun 1967 dan juga perusahan asing pertama yang mendapat izin beroperasi di Indonesia. Sekarang sudah 48 tahun berjalan tetapi dapat kita lihat sendiri bagaimana kehidupan di Papua. Dengan transportasi terbatas dan kesejahteraan masih kurang menyeluruh dirasakan dan juga komflik sosial yang tidak pernah kunjung padam, dimana rakyat Papua yang merasa kurang puas dengan pemerintah pusat memberontak membentuk kesatuan Organisasi Papua Merdeka. Walaupun pemerintah pusat telah menyalurkan otonomi khusus seperti Aceh tetapi tetap saja perkembangan lambat terjadi disana.
Mengenai emas yang ada di Beutong, jikapun perusahaan berjanji akan memperkerjakan putera daerah juga menjadi masalah tersendiri bagi perusahan dan masyarakat setempat. Dikarenakan berbicara masalah tambang adalah sarat akan ilmu pengatahuan moderen bagian tambang yang mana harus diperoleh melalui tahapan pendidikan yang terstruktur dari bidang tambang itu sendiri. Jika kita lihat dilapangan maka putera daerah disana tidak mempunyainya dan sudah pasti jikapun diperkerjakan maka mareka tetap sebagai buruh kasar yang mana tidak ubah seperti berkerja pada bangunan walaupun di tempat mareka kekayaan alam itu dikeruk. Dan kemungkinan untuk digusur juga akan ada jika perusahan memperoleh sumber daya baru disekitar warga. Walaupun biaya kompensasi diberikan tetapi permasalahan akan tetap ada seperti halnya masyarakat Aceh Utara yang menuntut pada PT Arun beberapa bulan yang lalu.
Hal ini adalah masalah serius yang akan dihadapi pemerintah, karena apapun yang terjadi tetap pemerintah yang mengambil peran penting dalam kegiatan di daerahnya. Jangan nanti hanya orang-orang tertentu yang memperoleh keuntungan dibalik pertambangan tersebut. pemerintah daerah harus mampu mengelola pendapatan daerah melalui pertambangan untuk mensejahterakan rakyatnya, bila perlu dengan memberikan subsidi bagi masyarakatnya.
Masalah lain yang harus diketahui juga adalah mengenai alam didaerah Beutong itu sendiri. Dikarenakan Beutong adalah daerah asri yang terletak diantara perbukitan dimana dikelilingi oleh penggunungan Lauser yang merupakan kawasan hutan lindung. Jika dilihat dari daerah survei yang dilakukan oleh perusahan Tigers Realm Metals dulu maka sudah memasuki kawasan hutan lindung. Ditakutkan proses ekplotasi nanti juga demikian dan sangat disanyangkan jika hutan lindung itu juga menjadi imbas dari praktik pertambangan ini. Untuk itu peran pemerintah dan LSM yang bergerak di bidang Alam khususnya kehutanan juga ikut mengawasi dan mengiringi perkembangan pertambangan ini.
Jika permasalahan ini semua dapat di atasi oleh pemerintah, maka kehadiran perusahan emas ini sangat membantu untuk laju perkembangan daerah dan dapat meningkatkan pendapatan Negara. Tetapi tindak penegak hukum juga harus ketat mengawasi kinerja pemerintah daerah. Karena bukan tidak mungkin dalam praktek kelancaran perjalanan Perusahan praktik-praktik yang buruk akan terjadi. Untuk itu KPK harus mengiringi tokoh-tokoh pemerintah dimana daerah pertambangan berlangsung, jangan nanti Negara dirugikan hanya karena oknum-oknum tertentu.
Belum lagi tuntas masalah kontroversi modal Perusahan Daerah Pembangunan Aceh (PDPA) yang akan mengelola Sumber Daya Alam (SDA) gas bumi Blok Pase kini nama Aceh dalam bidang kekayaan Alam kembali mencuat di berbagai media baik lokal maupun nasional. Tetapi kali ini mengenai emas di Beutong, Kabupaten Nagan Raya yang mana daerah ini juga dikenal sebagai penghasil Batu Mulia terbaik di Aceh (Giok Nagan). Seperti yang diberitakan prusahan asal Kanada, Kalimantan Gold sudah berkongsi dengan Tigers Realm Metals asal Australia yang juga rekanan Surya Paloh dimana mempunyai 60 % saham di dalamnya untuk mengeruk logam mulia di Beutong.
Beutong Banggalang adalah sebuah kecamatan yang ada di Nagan Raya, letaknya diantara penggunungan Lauser dan berbatasan lansung dengan Aceh Tengah. Untuk menuju daerah tersebut dari kota Suka Makmu ibukota Nagan Raya membutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan melewati medan yang berat dengan penggunungannya. Kehidupan perekonomian masyarakat umumnya bercocok tanam baik dalam pertanian sawah maupun perkebunan.
Berdasarkan sumber berita Tribunnews pada kamis 22 Januari 2015, sumber daya yang ada di Beutong terdiri dari 93 ton, yang terdiri dari 1,24 miliar pounds tembaga, 373.000 ounce (oz) emas, 5,7 juta oz perak, dan 20 juta poun molybdenium. Sungguh sumber daya yang menjanjikan untuk dieksploitasi oleh kedua perusahan ini. Dalam pernyataan tersebut pihak perusahan juga mengatakan jika proses perizinan cepat selesai maka 2 atau 3 tahun kedepan perusahan ini akan beroperasi.
Sebelumnya pemerintah Nagan Raya telah memberi izin pada tahun 2006 kepada PT Emas Mineral Murni (EMM) di lokasi garapan Desa Blang Puuk, Kecamatan Beutong Banggalang dengan nomor 545/68/KP-EKSPLORASI/2006 dengan kuasa pertambangan Eksplorasi NR.1 Map 06 dimana izin survei selama delapan tahun. Dan pada tahun 2012 lalu Owen Hegarty pengusaha pertambangan Australia dari kelompok Tigers Realms Group yang sekarang berkongsi dengan Kalimantan Gold juga membuat pernyataan mencengangkan di Koran The Australian dimana Owen mengatakan perusahannya baru saja melakukan survei temuan kandungan emas-tembaga di Beutong, Nagan Raya. Dimana angkanya mencapai 500 juta ton. Agaknya dengan pernyataan yang menjanjikan tersebut sekarang pihak Kalimantan Gold bersedia mengakuisasi 40 % saham pada pertambangan emas Beutong.
Penggabungan kedua perusahan Besar ini yang mana kedua-duanya berasal dari luar negeri (asing) maka pertambangan emas Beutong akan dapat di operasionalkan semaksimal mungkin. Tetapi pertanyaannya siapkan Aceh khususnya Kabupaten Nagan Raya mengawasi laju pertambangan ini. Karena sebelumnya pada tahun 2013 tokoh masyarakat Beutong juga pernah mendatangi Kantor Serambi Indonesia untuk menolak pertambangan emas yang di lakukan oleh perusahan EMM di Beutong dengan alasan karena perusahan tersebut tidak bermanfaat bagi masyarakat juga merusak lingkungan. Hal ini terjadi karena pihak perusahan tidak memberikan kesempatan kerja pada masyarakat setempat.
Tetapi sekarang emas Beutong dikelola oleh dua perusahan besar dan Surya Paloeh (putera Aceh) juga ada didalamnya. Tentu rakyat berharap hadirnya kedua perusahan ini dapat mensejahterakan mareka. Akan tetapi harapan rakyat ini akan terjadi jika pemerintah daerah serius dalam menangani bidang pertambangan.
Masalah kekayaan alam adalah masalah besar yang dapat membuat rakyat sejahtera tetapi juga dapat membuat rakyat sengsara dimana konflik sosial akan terjadi jika kesejahteraan rakyat daerah tambang tidak diperhatikan. Kita ambil contoh seperti yang terjadi di era tahun 1970 an dulu di Aceh Utara pada perusahaan tambang Gas Bumi Arun. Karena rakyat tidak diperhatikan maka gejolak sosial terjadi karena mareka bernggapan Pemerintah Pusat berkerjasama dengan Asing hanya mengeruk kekayaan Alam saja tetapi tidak memberi keutungan kepada rakyat disekelilingnya. Protes ini juga salah satu faktor besar yang menjadi pemicu konflik bersenjata antara Aceh dan Pemerintah Pusat. Puncaknya setelah Muhammad Hasan Tiro memploklamirkan Aceh Merdeka pada 04 Desember 1976. Karena pada masa ini rakyat menganggap pemerintah pusat hanya menjadikan Aceh sebagai sapi perahan untuk pembangunan pusat. Konflik ini dapat terselesaikan pada tahun 2005 dengan perjanjian MoU Helsingky.
Belajar dari sejarah, kita takutkan jika Pemerintah dan pihak perusahaan tidak memperhatikan kesahteraan daerah tambang maka konflik sosial akan terulang kembali. Mengingat Beutong adalah salah satu yang mempunyai luka sejarah pada era konfik dulu dimana pada tahun 1999 terjadi pembantaian terhadap TGK. Bantaqiah dan santrinya di pasantren Babul Mukarramah. Walaupun kejadian ini telah berlangsung puluhan tahun lalu tetapi bukan tidak mungkin karena masalah kesenjangan sosial ekonomi sangat sensitif untuk membuat konflik terjadi. Dan hal ini tentu sangat tidak ingin kita alami di tengah perdmaian dan kesejahteraan yang telah kita peroleh saat ini.
Kita bisa melihat pertambangan emas Freeport di Papua yang di kelola oleh Amerika yang telah beroperasi mulai tahun 1967 dan juga perusahan asing pertama yang mendapat izin beroperasi di Indonesia. Sekarang sudah 48 tahun berjalan tetapi dapat kita lihat sendiri bagaimana kehidupan di Papua. Dengan transportasi terbatas dan kesejahteraan masih kurang menyeluruh dirasakan dan juga komflik sosial yang tidak pernah kunjung padam, dimana rakyat Papua yang merasa kurang puas dengan pemerintah pusat memberontak membentuk kesatuan Organisasi Papua Merdeka. Walaupun pemerintah pusat telah menyalurkan otonomi khusus seperti Aceh tetapi tetap saja perkembangan lambat terjadi disana.
Mengenai emas yang ada di Beutong, jikapun perusahaan berjanji akan memperkerjakan putera daerah juga menjadi masalah tersendiri bagi perusahan dan masyarakat setempat. Dikarenakan berbicara masalah tambang adalah sarat akan ilmu pengatahuan moderen bagian tambang yang mana harus diperoleh melalui tahapan pendidikan yang terstruktur dari bidang tambang itu sendiri. Jika kita lihat dilapangan maka putera daerah disana tidak mempunyainya dan sudah pasti jikapun diperkerjakan maka mareka tetap sebagai buruh kasar yang mana tidak ubah seperti berkerja pada bangunan walaupun di tempat mareka kekayaan alam itu dikeruk. Dan kemungkinan untuk digusur juga akan ada jika perusahan memperoleh sumber daya baru disekitar warga. Walaupun biaya kompensasi diberikan tetapi permasalahan akan tetap ada seperti halnya masyarakat Aceh Utara yang menuntut pada PT Arun beberapa bulan yang lalu.
Hal ini adalah masalah serius yang akan dihadapi pemerintah, karena apapun yang terjadi tetap pemerintah yang mengambil peran penting dalam kegiatan di daerahnya. Jangan nanti hanya orang-orang tertentu yang memperoleh keuntungan dibalik pertambangan tersebut. pemerintah daerah harus mampu mengelola pendapatan daerah melalui pertambangan untuk mensejahterakan rakyatnya, bila perlu dengan memberikan subsidi bagi masyarakatnya.
Masalah lain yang harus diketahui juga adalah mengenai alam didaerah Beutong itu sendiri. Dikarenakan Beutong adalah daerah asri yang terletak diantara perbukitan dimana dikelilingi oleh penggunungan Lauser yang merupakan kawasan hutan lindung. Jika dilihat dari daerah survei yang dilakukan oleh perusahan Tigers Realm Metals dulu maka sudah memasuki kawasan hutan lindung. Ditakutkan proses ekplotasi nanti juga demikian dan sangat disanyangkan jika hutan lindung itu juga menjadi imbas dari praktik pertambangan ini. Untuk itu peran pemerintah dan LSM yang bergerak di bidang Alam khususnya kehutanan juga ikut mengawasi dan mengiringi perkembangan pertambangan ini.
Jika permasalahan ini semua dapat di atasi oleh pemerintah, maka kehadiran perusahan emas ini sangat membantu untuk laju perkembangan daerah dan dapat meningkatkan pendapatan Negara. Tetapi tindak penegak hukum juga harus ketat mengawasi kinerja pemerintah daerah. Karena bukan tidak mungkin dalam praktek kelancaran perjalanan Perusahan praktik-praktik yang buruk akan terjadi. Untuk itu KPK harus mengiringi tokoh-tokoh pemerintah dimana daerah pertambangan berlangsung, jangan nanti Negara dirugikan hanya karena oknum-oknum tertentu.
Kamis, 08 Mei 2014
ACEH TERMAKAN SUMPAH INDATU
Aceh
Termakan Sumpah Indatu?
Date: 06
March 2014 - 11:35 am, Viewer: 3362
Akhir-akhir
ini aksi kekerasan semakin meningkat di nanggroe Aceh menjelang pemilu. Jika
merunut ke belakang, tanoh Aceh selalu bersimbah darah dan terlibat konlik,
baik dengan pemerintah Jakarta, maupun perang saudara sesama orang Aceh.
Saya tidak
tahu apakah ini karena karakter masyarakat Aceh yang keras, atau ada sebab
lain.
Jika kita
hitung selama masa kemerdekaan dari kurun 1945 hingga sekarang saja, sudah
beberapa kali Aceh dilanda konflik.
Yang paling
fenomenal adalah Perang Cumbok. Terjadi pada 1946, ini konflik antara ulama dan
bangsawan. Kaum ulama marah kepada sebagian bangsawan yang dianggap memihak
Belanda. Tak sedikit kaum bangsawan yang dieksekusi tanpa proses pengadilan.
Bahkan jasadnya tak sedikit yang dikubur di sumur-sumur tua.
Setelah itu,
tujuh tahun kemudian, giliran meletus perang DI/TII yang dipimpin Teungku Daud
Beureuh. Daud kecewa pada Sukarno yang dianggapnya ingkar janji. Ini
berlangsung selama 9 tahun. Daud Beureueh akhirnya turun gunung pada 6 Mei
1962, kembali ke pelukan ibu pertiwi.
Berselang 14
tahun kemudian, muncul pemberontakan Hasan Tiro yang mendeklarasikan Gerakan
Aceh Merdeka. Dimulai sejak 4 Desember 1976, GAM sepakat berdamai dengan
pemerintah Indonesia pada 15 Agustus 2005.
Kini, di
usia perdamaian yang baru 9 tahun tahun, Aceh kembali bersimbah darah. Kali ini
bukan melawan pemerintah Indonesia, melainkan sesama orang Aceh.
Mengapa
konflik seolah enggan beranjak dari bumoe Aceh. Ini perlu kajian antropolog
yang lebih mendalam.
Namun, dalam
kebingungan itu menemukan tulisan tentang sumpah kerajaan Aceh ketika akan
melawan agesi Belanda pada 1873.
Pada 1872
Masehi, di dalam Masjid Baiturrahim Daruddunia (sekarang Masjid Raya), para
pembesar kerajaan dan ulama membuat kesepakatan untuk berperang melawan
Belanda. Kesepakatan tersebut kemudian dibungkus dalam sumpah yang dipimpin
oleh Kadli Mu’adhdham Mufti Besar Aceh, Syekh Marhaban bin Haji Muhammad Saleh
Lambhuk dengan disaksikan oleh para alim ulama Aceh.
Sumpah
tersebut berbunyi, “demi Allah, kami sekalian hulubalang khadam Negeri Aceh dan
sekalian kami yang ada jabatan masing-masing kadar mertabat, besar kecil, timur
barat, tunong baroh, sekalian kami ini semuanya, kami taat setia kepada Allah
dan Rasul, dan kami semua ini taat setia kepada Agama Islam, mengikuti Syariat
Nabi Muhammad Saw, dan kami semua ini taat setia kepada raja kami dengan
mengikuti perintahnya atas yang hak, dan kami semuanya cinta pada Negeri Aceh,
mempertahankan dari pada serangan musuh kecuali ada masyakkah, dan kami semua
ini cinta kasih pada sekalian rakyat dengan memegang amanah harta orang yang
telah dipercayakan oleh empunya milik. Maka jika semua kami yang telah
bersumpah ini berkhianat dengan mengubah janji seperti yang telah kami ikrar
dalam sumpah kami semua ini, demi Allah kami semua dapat kutuk Allah dan Rasul,
mulai dari kami semua sampai pada anak cucu kami dan cicit kami turun temurun,
dapat cerai berai berkelahi, bantah dakwa-dakwi dan dicari oleh senjata
mana-mana berupa apa-apa sekalipun. Wassalam.”
Sumpah ini
kemudian dimasukkan dalam sarakata Baiat Kerajaan, bertulis tangan dengan huruf
Arab. Naskahnya ditemukan kembali dalam dokumen peninggalan Wazir Rama Setia
Kerajaan Aceh Said Abdullah Di Meulek. Naskah asli kini disimpan Said Zainal
Abidin salah seorang keturunan Di Meulek, sementara foto kopinya ada di Pustaka
Ali Hasjmy di Banda Aceh. (Referensi: Sumpah
Kerajaan Aceh)
Pada 1 Muharram 1290 Hijriyah atau sekitar 1873 M, diambil sumpah tiga menteri inti. Tempatnya juga di dalam Masjid Istana Baiturrahim. Pengambilan sumpah dipimpin oleh Kadli Mukhaddam Syeh Marhaban bin Haji Saleh Lambhuk.
Isinya
sebagai berikut:
"Kami bersumpah, bahwasanya kami tiga orang sekali-kali tidak mau tunduk di bawah kekuasaan Holanda, dengan menyerah diri takluk di bawah kekuasaan siteru. Maka barangsiapa dalam tiga orang yang tersebut namanya dalam surat istimewa ini tunduk dan takluk ke bawah kekuasaan Holanda, maka ke atasnya kutuk Allah sampai pada anak cucunya masing-masing.”
Setelah selesai pengambilan sumpah, Kabinet Perang langsung mengeluarkan perintah hariannya yang ditujukan kepada semua hulubalang dan rakyat Aceh. Surat ini disampaikan oleh Wazir Rama Setia/Wakil Panglima Besar Angkatan Perang, Said Abdullah Teungku Di Meulek. Perintah harian tersebut berjudul Surat Nasehat Istimewa Keputusan Kerajaan Melawan Hollanda, tertanggal 1 Muharram 1290 H atau sekitar 1873 M.
"Kami bersumpah, bahwasanya kami tiga orang sekali-kali tidak mau tunduk di bawah kekuasaan Holanda, dengan menyerah diri takluk di bawah kekuasaan siteru. Maka barangsiapa dalam tiga orang yang tersebut namanya dalam surat istimewa ini tunduk dan takluk ke bawah kekuasaan Holanda, maka ke atasnya kutuk Allah sampai pada anak cucunya masing-masing.”
Setelah selesai pengambilan sumpah, Kabinet Perang langsung mengeluarkan perintah hariannya yang ditujukan kepada semua hulubalang dan rakyat Aceh. Surat ini disampaikan oleh Wazir Rama Setia/Wakil Panglima Besar Angkatan Perang, Said Abdullah Teungku Di Meulek. Perintah harian tersebut berjudul Surat Nasehat Istimewa Keputusan Kerajaan Melawan Hollanda, tertanggal 1 Muharram 1290 H atau sekitar 1873 M.
Salah satu
bagian surat ini berbunyi:
"Maka
barangsiapa yang tuan-tuan dan hulubalang-hulubalang memihak berdiri kepada Holanda
dengan sengaja, yaitu tidak ada masyakkah, maka Insya Allah Taala akan datang
pada suatu zaman yang kebili kebilui anak cucu tuan-tuan muntah darah dan
dimandikan dengan darah oleh rakyat sendiri masing-masing, walau besar walau
kecil." (Referensi: Perintah Perang Aceh)
Kita tahu,
perkembangan berikutnya tak sedikit hulubalang Aceh yang berpihak pada Belanda,
sampai kemudian meletuslah perang Cumbok pada 1946.
Saya kembali
terpekur mengingat kondisi Aceh hari ini. Air mata saya tiba-tiba saja tak
terbendung. Apakah Aceh termakan sumpah indatu? []
- See more
at:
http://atjehtoday.com/content/read/1835/Aceh-Termakan-Sumpah-Indatu#sthash.2z5hWTdC.dpuf
Rabu, 07 Mei 2014
Tragedi Beutong Ateuh
oleh : Museum HAM Aceh
Saksi
Tragedi Beutong Ateuh:
Mereka
Dibantai Tanpa Perlawanan
BANDA
ACEH (Waspada): Peristiwa dibalik kematian Tgk. Bantaqiah dan 30
pengikutnya
terkuak setelah saksi mata membeberkan peristiwa yang
digambarkan
sebagai pembantaian massal oleh pasukan "siluman" Bataliyon 328
Kostrad
di bawah kendali operasi (BKO) Korem 011/Lilawangsa.
Tapi
Danrem 011/LW Kol Inf Syafnil Armen kepada BBC London membantah bahwa
pasukan
yang menembaki Bantaqiah berikut pengikutnya dari Kostrad yang
didatangkan
dari Jakarta.
"Setahu
saya tidak ada pasukan Kostrad yang dikirim ke Aceh," kata Danrem
011/Lilawangsa,
seperti disiarkan BBC London Senin (26/7) malam. Dan, kata
dia,
pasukan yang dilibatkan dari Korem 011/LW dan Korem 012/Teuku Umar.
Tapi
sumber-sumber resmi Waspada menyebutkan, pasukan di bawah pimpinan Kasi
Intel
Korem 011/LW Letkol Inf Sudjono diperkuat satuan setingkat peleton
dari
Komando Strategi Angkatan Darat (Kostrad).
Kata
sumber Waspada, seratus lebih pasukan TNI tersebut bergerak dari
Takengon,
Aceh Tengah Kamis (22/7). Dari kota dingin itu, pasukan
menggunakan
truk militer dan menyisir lembah Beutong Ateuh.
Meraungnya
deru mesin truk militer, dilaporkan sempat dilihat dan
mengejutkan
penduduk sehingga mereka ketakutan. Untuk menuju ke lokasi
pesantren
milik Bantaqiah, aparat keamanan harus menyusuri jalan setapak
menuruni
lembah dan melintasi Krueng (sungai) Beutong.
Sampai
di TKP Jumat siang (bukan Sabtu-red), menurut versi TNI, pasukan
sempat
dua kali dihadang pengikut tokoh spiritual itu. Karena mendapat
perlawanan,
pasukan TNI kemudian memberondong tubuh Bantaqiah dan 30 orang
pengikutnya.
Penduduk sipil itu langsung tewas di tempat.
Tanpa
Perlawanan
Sementara
itu Abdullah Saleh SH, adik sepupu Tgk Bantaqiah, kepada Waspada
di
Banda Aceh, Senin (26/7) menjelaskan sebelum mereka dihabisi tanpa
perlawanan
lebih dahulu dibariskan di halaman kediaman Tgk Bantaqiah dengan
posisi
tangan di atas kepala.
Mengutip
saksi hidup yang kini diamankan di suatu tempat di Aceh Barat,
Abdullah
Saleh, yang juga Wakil Ketua DPW PPP Aceh, itu menyebutkan
kronologi
pembantaian bermula dari masuknya pasukan TNI keempat desa di
kemukiman
Beutong Ateuh.
Desa
pertama yang disisir, kata Abdullah Saleh, yaitu Blang Puuk. Di situ
aparat
memberitahukan kepada masyarakat, Jumat (22/7) akan diadakan
pemeriksaan
KTP. Setelah itu, kata Abdullah Saleh, aparat bergerak menuju
Desa
Blang Meurandeh dan menyisiri hulu sungai Krueng Beutong. Siang
harinya,
pasukan kembali ke desa Blang Meurandeh, sementara masyarakat sudah
berkumpul
di rumah Bantaqiah.
Saat
itu, kata Abdullah Saleh, masyarakat yang di atas panggung diperintah
turun
oleh pasukan aparat dan berkumpul di halaman rumah. Saat mereka sudah
berkumpul,
kata pengacara di Banda Aceh itu, pasukan TNI langsung menembaki
tubuh
Tgk Bantaqiah.
Melihat
Bantaqiah ditembaki, istri dan anaknya, Usman 28, lari dan memeluk
tubuh
Bantaqiah. Terus, kata Abdullah Saleh, keduanya tak luput dari
berondongan
peluru hingga bapak, istri dan anak itu tewas bersimbah darah.
Setelah
itu, masih kata Abdullah Saleh, seluruh pengikut Bantaqiah ditembaki
sedangkan
sisanya dibawa dengan truk ke arah Takengon.
Menurut
Abdullah Saleh, seluruh warga sipil yang menjadi korban kekejaman
pasukan
TNI itu dikubur dalam satu lobang, bekas galian sumur. Sedangkan
jasad
Bantaqiah, dikubur secara terpisah. "Yang melakukan penguburan massal
adalah
rakyat yang diperintahkan pasukan TNI," kata Abdullah, mengutip
keterangan
saksi yang lolos dari pembantaian itu. Begitupun, hingga berita
ini
dikirm belum diperoleh keterangan nama-nama korban pembantaian itu.
(tim)
----------end----------
GAM
Bantah Telah
Terjadi
Kontak Senjata
BANDA
ACEH (Waspada): Sekjen Majelis Pemerintahan Gerakan Aceh Merdeka (MP
GAM),
Teuku Don Zulfahri membantah telah terjadi kontak senjata dalam
Tragedi
Beutong Ateuh yang menewaskan Tgk. Bantaqiah bersama istri dan para
muridnya.
"Tgk.
Bantaqiah hanyalah mangsa genocide yang dilakukan oleh aparat-aparat
TNI,"
tegas T. Don Zulfahri dalam siaran pers yang diterima Waspada di Banda
Aceh,
Senin (26/7) malam.
Dalam
siaran pers Sekjen MP GAM yang dikirim melalui faksimil dari Malaysia
itu,
T.Don juga menyatakan seluruh komponen GAM berdukacita dengan
meninggalnya
Tgk. Bantaqiah. Karena bangsa Aceh kembali kehilangan seorang
guru
agama Islam yang berprinsip dan berkaliber.
Peristiwa
hari Jumat (22/7) yang baru bocor kepada umum Minggu malam itu,
menurut
T. Don merupakan suatu pembunuhan yang direncanakan oleh TNI untuk
menakut-nakuti
teungku-teungku dan alim ulama Aceh yang diketahui merestui
perjuangan
GAM.
Kata
dia, target yang dipilih TNI jauh dari masyarakat ramai, adalah untuk
mengelakkan
reaksi spontan dari para santri dan teungku dayah di seluruh
Aceh.
"Semasa DOM dulu, Tgk. Ahmad Dewi juga diganyang dengan cara serupa."
Disebutkan,
dalam peristiwa tersebut tidak ada terjadi kontak senjata.
Malah,
menurutnya, Tgk. Bantaqiah tidak melawan langsung. "Beliau dibunuh
dengan
kejam diluar prilaku manusia, lebih parah dari binatang. Setelah
beliau
dihabisi, anak muridnya dibariskan dan ditembak seperti tentara Nazi
membunuh
kaum Yahudi," papar T.Don.
Sementara
rentetan peristiwa yang di beberkan Danrem 012/TU Kolonel CZI
Syarifudin
Tippe, menurut Sekjen GAM ini, semuanya merupakan cerita bohong
dan
palsu. Kata dia, ganja yang ditemukan adalah rekayasa TNI yang
direncanakan,
penemuan senjata api bukan bukti ada kontak senjata. "Untuk
itu,
kami menyerukan bangsa Aceh agar mengusir manusia-manusia hipokrit
seperti
itu," tulis T.Don.
Dalam
genocide terhadap Tgk. Bantaqiah, istri dan muridnya, T.Don menyatakan
TNI
telah merencanakan untuk menyembunyikannya dari pengetahuan umum, sama
seperti
pembunuhan terhadap Tgk. Ahmad Dewi.
Buktinya,
kejadian sudah Jumat siang, kenapa baru hari Minggu diberikan
penjelasan
oleh TNI. Inipun setelah peristiwa itu bocor kepada wartawan,
yang
disampaikan oleh murid-murid Tgk. Bantaqiah yang sempat menyelamatkan
diri.
"Kalau tidak, tentu akan menjadi misteri seperti hilangnya Tgk. Ahmad
Dewi,"
tuturnya.
Dalam
siaran pers itu, T. Don dengan tegas menyatakan GAM tidak akan
bertolak
angsur dengan TNI dalam keadaan apapun, GAM akan berjuang sampai ke
titik
darah terakhir, walaupun seluruh rakyat Aceh dibantai seperti Tgk.
Bantaqiah.
"Biar seluruh bumi Aceh hangus, asalkan Aceh terbebas dari TNI."
Pada
akhir siaran persnya, T. Don Zulfahri memohon kepada Allah agar
mencucuri
rahmat dan hidayah-Nya kepada Tgk. Bantaqiah, istri dan para
muridnya
yang telah lebih dulu berpulang ke pangkuan-Nya
AGAM
Mengutuk
Angkatan
Gerakan Aceh Merdeka (AGAM) juga mengutuk keras tindakan sadis
pembunuhan
tokoh karismatik dan pemimpin agama Aceh Barat Tgk.Bantaqiah dan
isteri
serta 30 pengikut lainnya oleh pasukan militer TNI dalam suatu
penyergapan
di lembah Gunung Singgah Mata, Beutong Ateuh, Aceh Barat Sabtu
siang
lalu (24/7).
Demikian
diungkapkan AGAM melalui Biro Penerangan Wilayah Pase Ismail
Saputra
(Abu Is) dalam suatu percakapan telepon dari tempat
persembunyiannya.
Menurut
Abu Is, Tgk, Bantaqiah sama sekali bukan anggota AGAM/GAM. Dia
adalah
pemimpin karismatik dan tokoh agama di Aceh Barat selain juga
pimpinan
salah satu pesantren di kawasan pedalaman di Gunung Singgah Mata.
Jadi
tak ada alasan pasukan TNI menghabisi nyawa tokoh karismatik Islam
bersama
isteri dan puluhan santrinya itu.
"Kami
dari AGAM dan juga barangkali seluruh lapisan rakyat Aceh benar-benar
mengalami
luka hati yang mendalam dan entah cara bagaimana melampiaskan rasa
pilu
diselimuti duka atas perlakuan penembakan dan pembunuhan tokoh Islam
Aceh
dan pimpinan pesantren Tgk.Bataqiah beserta isteri dengan puluhan
santri
yang tak berdosa yang tewas ketika masih menuntut ilmu, terutama
Agama
Islam," ujar Abu Is dengan rasa haru yang mendalam.
Dia
lagi-lagi mempertanyakan, kenapa pihak militer TNI sampai hati menembak
habis
pimpinan pesantren dan isteri serta puluhan santri yang tak berdosa
itu
tanpa ada rasa prikemanusiaan sedikitpun, sementara mereka jelas tak
punya
senjata karena bukan anggota AGAM, sayap militer GAM.
Abu
Is juga membantah keras keterangan Danrem 012/TU Kol CZI Syarifuddin
Tippe
yang menyebutkan, bahwa dari tangan para korban disita empat pucuk
senjata
api AK-47, AK-56, pistol Colt 38 dan FN-45 dan sejumlah peluru.
"Sebagai
orang pesantren, mereka jelas tidak punya senjata api. Namun kalau
ada,
bagaimana pasukan TNI mendapatkan," ujar Abu Is dengan nada bertanya.
Kepada
pihak TNI dia juga mengimbau agar tidak gegabah dalam melakukan aksi
penembakan.
Warga sipil, terutama kaum agama dan para santri yang tak tahu
apa-apa
harus dibedakan karena mereka bukan anggota AGAM. Karena, kalau
tidak,
jelasnya, warga sipil Aceh, termasuk anak sekolah akan ikut dibabat
habis
sehingga akhirnya lebih berharga jiwa binatang ketimbang jiwa rakyat
Aceh.
"Bagaimanapun, orang Aceh pasti tak mau menerima perlakuan seperti itu
dari
pihak TNI," katanya. (tim)
Langganan:
Postingan (Atom)
