Jumat, 18 April 2014

PERANG ACEH (perang Belanda di Aceh)

PERANG ACEH, sebagai Perang di Jalan Allah1873-1812
Oleh : Oga Umar Dhani

A.    PERANG DI JALAN ALLAH (Perang Aceh 1873-1812)
Perang Kerajaan Belanda dengan Keranjaan Aceh yang berlangsung dari tahun 1873 sd 1912 merupakan perang yang terbesar dan terlama yang dialami pemerintah Hindia Belanda di Indonesia. Pasukan Belanda sangat berambisi untuk menduduki Aceh yang merupakan satu-satunya daerah di Sumatera yang belum dikuasainya dan Belanda juga khawatir kalau daerah Aceh duluan mendapat pengaruh asing dari bangsa Eropa.Yang menarik dari tema Perang Di Jalan Allah adalah menggambarkan bagaimana semangat rakyat Aceh yang sulit dimengerti oleh Belanda dalam mempertahankan daerah kedaulatannya. Dengan semangat perang sabil yang dikobarkan oleh ulama-ulama Aceh maka rakyat Aceh dengan semangat pantang menyerah dan tidak takut akan mati ditembus  peluru Belanda membuat Belanda harus berpikir khusus untuk dapat menaklukkan Aceh seutuhnya.  Semangat ini timbul karena Rakyat beranggapan perang ini merupakan perang kewajiban bagi setiap umat islam dalam membela agama Allah SWT. Kalaupun mareka mati maka matinya syahid di jalan Allah SWT.  Dengan adanya perang tersebut maka rakyat Aceh tidak hanya mempertahankan Negeri namun  juga Agama dan timbul semangat kesadaran akan keacehannya.
Dengan didahului sebuah ultimatum perang oleh Belanda terhadap kerajaan Aceh pada tanggal 26 Maret 1873, perang Belanda di Aceh dimulai. Rakyat menganggap perang yang dilancarkan Belanda terhadap Kerajaan Aceh sebagai bahaya yang merusak tata kehidupan masyarakat dan nilai keagamaan. Karena bagi orang Aceh, Belanda merupakan Kafir yang mengancam kedaulatannya. Rakyat Aceh menghadapi agresi Belanda ini dengan manifestasi kolektif melalui bentuk perlawanan bersenjata yang merupakan perang terlama yang dialami oleh Hindia Belanda di Indonesia.
Berdasarkan kitab Tadkhirat al- Rakidin yang ditulis oleh Syeh Abbas Ibnu Muhammad alias Tgk Chiek Kutakarang, masyarakat Aceh diakhir abad ke 19 ada dua jenis kepemimpinan yang berlaku di Aceh yaitu pemimpin adat dan pemimpin agama. Pemimpin adat yaitu Sultan serta para kerabat yang membantunya dan Ulebalang yang memerintah di daerah-daerah. Sedangkan pemimpin agama adalah ulama atau guru-guru agama. Sistem kekuasaan kerajaan Aceh selain berada langsung di bawah kekuasaan Sultan juga terdiri dari tiga pembagian yaitu daerah tiga mukim ( mukimXXII, mukim XXV dan mukim XXVI), daerah taklukan diluar Aceh Besar, dan daerah yang jauh dari pedalaman. Sultan memberikan kekuasaan kepada Ulebalang-ulebalang daerah untuk memerintah sesuai adat daerahnya, namun tetap membayar upeti kepada Sultan. Kerajaan Aceh diakhir abad ke 19 bukan suatu pemerintahan sentral yang kuat. Kerena karena di aderah-daerah terjadi perang Pageue yaitu perang memperebutkan wilayah antara Ulebalang-ulebalang daerah.

B.     Jalannya perang
Dalam Kancah Peperangan ( 1873-1812) Sebelum terjadi perang Kerajaan Belanda dengan Kerajaan Inggris pada tahun 1824 telah menandatangani sebuah perjanjian yang dikenal Traktat London yang isinya Belanda mengakui kedaulatan Aceh sebagai bangsa yang merdeka. Namun pada tahun 1858 Belanda menandatangani sebuah perjanjian dengan sultan Siak, isi perjanjian itu sultan Siak mengakui kedaulatan Belanda di daerahnya yang pada dasarnya daerah kekuasaan sultan Siak merupakan daerah takluk Aceh, yang mewajibkan membayar upeti ke kerajaan Aceh. Pada tahun 1871 Belanda dan Keraajaan Inggris menandatangani sebuah Perjanjian yang disebut Traktat Sumatera yang isinya Belanda bebas memperluaskan kekuasaan di Pulau Sumatera. Kerajaan Aceh merasa terancam dengan adanya Traktat Sumatera tersebut, maka Kerajaan Aceh mencari dukungan ke Negeri-negeri sahabat seperti Turky, Singapura, Inggris, Amerika,dan Italia. Pada tanggal 26 Maret 1873 Belanda memberikan ultimatum Perang kepada Kerajaan Aceh, dengan demikian perang terlama di Indonesia antara Belanda dan Kerajaan Aceh dimulai. Peperangan Aceh dibagi dalam dua masa yaitu :
1. Masa Bertahan 1873 – 1875, setelah belanda mendarat pertama kali di Aceh pada tanggal 8 April 1873 di bawah pimmpinan J. H. Kohler, karena kuatnya perlawanan rakyat Aceh dengan mengumandangkan kalimah “Laila Haillah” maka pada tanggal 14 April 1873 J. H. Kohler tewas, maka Belanda pun pada taggal 29 April 1873 meninggalkan Aceh dengan membawa kekalahan. Setelah itu pada bulan November dilakukan serangan kedua dibawah pimpinan J. Van Switen yang berasil memukul mundur pasukan Aceh dari Keraton dan menduduki Mesjid Raya. Kemudian pada tanggal 29 Januari 1874 Sultan Muhmud Syah meninggal Karena Penyakit Kolera yang dimakamkan di Cot Banda.
2. Masa Perang Rakyat 1876-1869, setelah terjadi kosongan kepemimpianan masyarakat aceh melawan dibawah komando Ulebalang-ulebalang, walaupu sultan Muda Muhammad Daud Syah sudah dinobatkan menjadi sultan karena usianya belum dewasa maka kekuasaan walikan oleh Tuanku Hasyim. Peperangan di lanjutkan oleh Uleebalang-uleebalang di daerah dan ulama.
            Selama perang berlangsung ulama maupun Uleebalang tidak henti-hentinya memberikan pencerahan akan pentingnya berperang dengan Belanda, memerangi kafir fardhu i’n oleh karena itu setiap orang Aceh baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak selagi masih menganut agama Islam diwajibkan atasnya berperang dengan Belanda dan bagi mareka yang tidak terlibat langsung maka dianjurkan untuk memberikan bantuan dana untuk perang. Untuk membangkitkan semangat perang para cendikiawan yang mahir dalam bidang sastra membacakan Hikayat-hikayat Perang Sabil, seperti yang ditulis oleh Tgk. Nyak Ahmad. Dalam Hikayat-hikayat tersebut juga dimasukkan cerita-cerita peperangan masa Nabi Muhammad untuk dijadikan sebagai contoh bahwa perang sabil merupakan perang yang mulia.
Ulama Memobilisasi Kekuatan dengan penyebaran ideologi perang sabil, para ulama menguatkan masyarakat untuk menjadi lebih kuat dalam menghadapi musuh. Para ulama menanamkan ideologi berlandaskan pada Firman ALLAH. Para ulama merangkul pengikutnya dengan pusat pengajian atau dayah sebagai tempat belajar dan mengatur strategi melawan Belanda. Seperti Tgk. Chik Di Tiro strategi yang dilakukan dalam penyebaran ideologi perang sabil melalui khotbah-khotbah agar membuat rakyat aceh mau untuk melawan Belanda (kaphe) dengan jalan perang Fisabillah. Ia juga mempunyai taktik agar Belanda mau berdamai dengan Aceh. Selain mengirim surat kepada Belanda Tgk. Chik Di Tiro juga mengirim surat kepada para Uleebalang yang telah mengakui kedaulatan Belanda untuk kembali berpihak kepada Aceh. Dan Tgk. Chik Kutakarang mengajarkan kepada para pengikutnya, jika dalam berperang bila musuh yang menggunakan senjata maka kita juga harus menggunakan senjata yang sama pula dengan apa yang digunakan oleh musuh kita. Perkataannya ternyata diindahkan oleh pengikutnya hal ini terbukti dengan apa yang dilakukan oleh pengikutnya melakukan penyerangan terhadap pos-pos Belanda seperti pada 24 April 1877 dan Maret 1878 para pejuang Aceh menyerang dan membawa lari senjata-senjata milik Belanda. Tgk. Tapa merupakan salah satu ulama yang berperang di jalan Allah SWT. Salah satu perlawanan yang dilakukannya terjadi pada 16 Juli 1898 terjadi kontak senjata dengan Belanda namun pasukan Tgk Tapa  kalah dan mengundurkan diri  ke bagian tanah Gayo kemudian pada awal 1900 Tgk. Tapa beserta pengikutnyan kembali melakukan perlawanan namun ia tewas beserta pengikutnya.

Dana perang sabil ini didapatkan dari zakat para muslim diseluruh Aceh yang dikumpulkan oleh para Ulama. Para Ulama menyampaikan hal itu melalui khotbah dan tulisan agar umat muslim membayar zakat yang merupakan rukun Islam hal tersebut juga diperjelas dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 43 dan surat Al-Taubah ayat 103. Zakat yang dikumpulakan ini bukan hanya dari para ulama saja melaikan dari para pembantu ulama dan pemimpin adat.
Dilanda Kekalahan Pada bulan Mei 1896 terjadi pertempuran antara mukim VI T. Umar dengan Belanda memperebutkan benteng yang dikuasai oleh T. Umar. kekalahan yang dialami Aceh adalah ketika penyerangan tiba-tiba yang dilakukan Belanda pada 28 Juni 1896 di Benteng Aneuk Galong serangan ini merupakan serangan yang sukses bagi Belanda karena banyak menggugurkan pejuang Aceh dan pertempuran ini sangat merugikan pihak Aceh, sistem pertahana konsentrasi yang dianut Belanda sejak 1884 diganti dengan sistem agresi. Pada 21 Juni 1896 Belanda berhasil menyergap T. Nyak Makam, Belanda memutuskan untuk mengeksekusi dengan memenggal kepala T. Nyak Makam dan menggaraknya sebagai bukti kemenangannya.
     Pihak Aceh terus mendapat pukulan dari pihak Belanda setelah Keumala Dalam dapat dikuasai Belanda pada 22 Agustus 1898 T. Umar yang dapat bertahan di pedalaman Tangse mengundurkan diri ke Aceh Barat dan akhirnya tewas pada 10 Februari 1899. Selain peperangan atas anjuran Snouck Hurgronje Belanda memakai politik sandra untuk mengalahkan pihak Aceh hal ini berhasil terbukti dengan menyerahnya Sultan dan T. Panglima Polem. Hal lain yang membuat Aceh terpuruk dalam kekalahan adalah 82 dari 100 Uleebalang mengakui kedaulatan Belanda dengan menandatangani Korte Verklaring.
     Banyak terjadi perlawanan namun gagal, hal lain yang membuat kekalahan Aceh adalah banyak pemimpin-pemimpin pejuang Aceh yang satu persatu tewas dan menyerahkan diri sehingga semakin sedikit gerakan melawan Belanda.

·         Ibrahim Alfian. 1987. Perang di jalan Allah, perang aceh 1873-1921.Pustaka Sinar Harapa. Jakarta.




Rabu, 16 April 2014

AGAMA SHINTO, JEPANG
Oleh : Oga Umar Dhani


A.    Latar Belakang
Agama adalah salah satu hal yang tidak akan bisa kita lepaskan dari kehidupan manusia. Dalam setiap tempat dan dalam setiap waktu, agama merupakan salah satu sumber dari peradaban manusia. Pada makalah ini, kami akan lebih menitik beratkan tentang bagaimana perkembangan agama Jepang atau yang lebih dikenal dengan nama Shinto.

Asal Usul Agama Shinto
Agama ini timbul pada zaman Prasejarah dan siapa pembawanya tak dapat dikenal dengan pasti. Penyebarannya ialah di Asia dan yang terbanyak ialah di Jepang. Agama shinto di Jepang itu tumbuh dan hidup dan berkembang dalam lingkungan penduduk, bukan datang dari luar. Nama asli agama itu ialah Kami no Michi yang bermakna jalan dewa.
Pada saat Jepang berbenturan dengan kebudayaan Tiongkok maka nama asli itu terdesak kebelakang oleh nama baru, yaitu Shin-To. Nama baru itu perubahan bunyi dari Tien-Tao, yang bermakna jalan langit. Perubahan bunyi iitu serupa halnya dengan aliran Chan, sebuah sekte agama Budha mazhab Mahayana di Tiongkok, menjadi aliran Zen sewaktu berkembang di Jepang.
Agama shinto itu berpangkal pada mitos bahwa bumi Jepang itu ciptaan dewa yang pertama-tama dan bahwa Jimmu Tenno, kaisar Jepang yang pertama itu adalah turunan langsung dari Amaterasu Omi Kami, yakni Dewi Matahari dalam perkawinannya dengan Touki Iomi, yakni Dewa Bulan. Sekalian upacara dan kebaktian terpusat seluruhnya pada pokok keyakinan tersebut.

B.     Sejarah Perkembangan Agama Shinto
Sejarah perkembangan agama Shinto di Jepang dapat dibagi kepada beberapa tahapan masa sebagai berikut:
1.      Masa perkembangannya dengan pengaruh yang mutlak sepenuhnya di Jepang, yaitu dari tahun 660 sebelum masehi sampai tahun 552 masehi, didalam masa duabelas abad lamanya.
2.      Masa agama Budha dan ajaran Konghuchu dan ajaran Tao masuk ke Jepang, yaitu dari tahun 552 M sanpai tahun 800 M. Yang dalam masa dua setengah abad itu agama sintho beroleh saingan berat. Pada tahun 645 M Kaisar Kotoku merestui agama Budha dan menyampingkan Kami no Michi.
3.      Masa sinkronisasi secara berangsur-angsur antara agama Shinto dengan tiga ajaran agama lainnya, yaitu dari tahun 800M sampai tahun 1700M. Yang dalam masa sembilan abad itu pada akhirnya lahir Ryobu-Shinto (Shinto-Panduan). Dibangun oleh Kobo-Daishi (774-835) dan Kitabake Chikafuza (1293-1354M) dan Ichijo Kanoyoshi (1465-1500M)dan lainnya.


C.     Sistem Ketuhanan Shinto

Konsep Tuhan dalam kepercayaan Shinto adalah sangat sederhana yaitu : " Semua benda di dunia, baik yang bernyawa ataupun tidak, pada hakikatnya memiliki roh, spirit atau kekuatan jadi wajib dihormati" Sejak awal sebenarnya secara natural manusia sudah menyadari bahwa mereka bukanlah mahluk kuat dan di luar mereka ada kekuatan lain yang lebih superior yang langsung ataupun tidak langsung berpengaruh terhadap kehidupan mereka sehari-hari. Pengakuan, kekaguman, ketakutan dan juga kerinduan pada Spirit atau "Kekuatan Besar" yang disebut dengan nama Kami atau Kami Sama itu diwujudkan dalam bentuk tarian, upacara dan festival budaya.
Jadi Kamisama adalah tuhan, dewa, atau kekuatan tertinggi bagi agama atau masyarakat Jepang. Tuhan tersebut hidup di segala tempat dan diberi nama sesuai dengan tempat atau benda yang ditempati. Tuhan yang berdiam di gunung diberi nama Kami no Yama, kemudian ada Kami no Kawa (Tuhan sungai), Kami no Hana (Tuhan bunga).

D.    Identitas Agama Shinto

Agama Shinto memiliki empat kitab suci. Keempat itu kitab itu adalah:
1.       Kojiki, yang bermakna catatan peristiwa purbakala. Disusun pada tahun 712 M.
2.       Nihonji, yang bermakna riwayat Jepang. Disusun pada tahun 720 M.
3.       Yengisiki, yang berisi nyanyian-nyanyian dan pujaan.
4.       Manyoshiu, yang bermakna himpunan sepuluh ribu daun. Berisikan bunga rampai, terdiri atas 4496 buah sajak, disusun antara abad ke-5 dengan abad ke-8 masehi.
          Tempat ibadah kaum Shinto disebut ise jingu. Adapun umat Shinto, mereka sangat menghormati kaisar. Karena mereka beranggapan bahwa kaisar Jepanng itu adalah titisan langsung Dewa Matahari. Adapun ajaran moralnya adalah menjunjung tinggi kehormatan negara dan kehormatan pribadi.





Daftar Pustaka

Ahmadi, Abu. 1997. Perbandingan Agama. Jakarta: P.T Rineka Cipta
Keene, Michael. 1997. Agama-agama di Dunia. Jakarta: Kanisius
Sou’yb, Joesoef. 1981. Agama-agama Besar di Dunia. Jakarta: Pustaka Al-Husna



HISTORIOGRAFI MASA KOLONIAL

HISTORIOGRAFI KOLONIAL
Oleh : Oga Umar Dhani

A.        Latar Belakang Historiografi Kolonial

Sejarah Indonesia dibangun dari fakta-fakta yang ada dan direkonstruksi oleh para sejarawan Indonesia dan sejarawan asing. Proses rekonstruksi sejarah sendiri memiliki perbedaan dari segi metodenya, keobyektifitasnnya, motivasinya, dan sebagainya. Historiografi Indonesia dari masa lalu telah mengalami perkembangan. Bermula dari historiografi tradisional, historiografi kolonial, historiografi revolusi dan yang terakhir berkembang adalah historiografi modern.
Setiap perkembangan historiografi memiliki karakteristik, metode, dan motivasi penulisan yang berbeda-beda satu dengan yang lain. Situasi dan kondisi politik sangat berpengaruh pada penulisan sejarah salah satu contohnya :
       Pada masa Tradisional penulisan Sejarah cendrung melegitimasi kedudukan seorang raja dan keluarganya yang berasal dari seorang raja yang besar. Pada masa Kolonial penulisan Sejarah sebagai bahan laporan perjalanannya di tanah jajahan, jadi yang dituliskan hanyalah orang-orang barat di tanah jajahan dan mengagungkan sukuisme dengan merendahkan tanah jajahan. Dan pada masa Revolusi penulisan Sejarah tentang tokoh-tokoh nasional yang dengan gigih berusaha mengusir penjajah dari tanah air lebih di utamakan. Dari ketiga contoh tersebut maka dapat di analisis yaitu Setiap masa memiliki kelemahan serta kelebihan sendiri-sendiri.

B.         Pengertian Historiografi
Historigrafi terbentuk dari dua suku kata yaitu history dan grafi.  Histori artinya sejarah dan grafi artinya tulisan. Jadi historiografi artinya adalah tulisan sejarah, baik itu yang bersifat ilmiah (problem oriented) maupun yang tidak bersifat ilmiah (no problem oriented). Sedangkan secara harafiah historiografi dapat diartikan sebagai uraian atau tulisan tentang hasil penelitian mengenai gejala alam. Namun dalam perkembangannya historiografi juga mengalami perubahan. Hal ini disebabkan para sejarawan mengacu pada pengertian historia, sebagai suatu usaha mengenai penelitian ilmiah yang cenderung menjurus pada tindakan manusia di masa lampau.
Dari penjelasan tersebut dapat dipetik suatu kesimpulan historiografi merupakan tingkatan kemampuan seni yang menekankan pentingnya ketrampilan, tradisi akademis, ingatan subyektif (imajinasi) dan pandangan arah yang semuanya memberikan warna pada hasil penulisannya. Dengan demikian berarti bahwa historiografi sebagai suatu hasil karya sejarawan yang menulis tulisan sejarah.

C.         Historiografi Kolonial pada masa Hindia Belanda
Historiografi Kolonial adalah karya  sejarah (tulisan sejarah) yang ditulis  pada masa pemerintahan kolonial berkuasa di Nusantara Indonesia, yaitu sejak zaman VOC (1600) sampai masa Pemeritahan Hindia Belanda yang berakhir ketika tentara pendudukan Jepang datang di Indonesia (1942). Perlu ditambahkan, pemerintahan Hindia Belanda yang dikendalikan oleh para Gubernur Jenderal melalui para ahli begitu aktif menulis karya sejarah. Atau dengan kata lain, historiografi kolonial adalah karya tulis sejarah yang ditulis oleh para sejarawan kolonial ketika pemerintahan kolonial berkuasa di Nusantara Indonesia. Contoh karya historiografi kolonial yang paling popular adalah sebuah buku yang ditulis oleh Raffles dengan judul History Of Java. Karya lainnya adalah karya-karya yang ditulis H.J. de Graaf dengan judul Geschiedenis van Indonesia (Sejarah Indonesia). Karya B.H.M. Vleke dengan judul Geschiedenis van den Indischen Archipel (Sejarah Nusantara). Karya G. Gonggrijp dengan judul Schets ener aconomische Geschiedenis van Nederlands-Indie (Sejarah Ekonomi Hindia Belanda).
Inti cerita sejarah dari Historiografi Kolonial adalah bangsa Belanda, oleh sebab hanya Belandalah yang dipandang penting di Hindia Belanda. Hal ini jelas dari istilah Hindia Belanda atau Hindia Nederlan yaitu daerah Hindia (Indonesia) yang “dimiliki” oleh Belanda. Bangsa Belanda sebagai “pemilik” memandang diri pribadinya sebagai yang dipertuan dan sebagai bangsa yang termulia, sehingga bangsa Indonesia hanya mendapat gelar “bumi putera” atau orang negeri. Kita tidak dipandang sebagai suatu bangsa, tetapi hanya sebagai sejenis manusia yang berguna bagi Belanda.
Perhatikan  penggalan kutipan kisah sejarah di bawah ini yang ditulis oleh orang Belanda Dr. C. Snouck Hurgronje dalam buku The Achehnese dalam Historiografi Kolonial yang sangat menyudutkan bangsa Indonesia dan mengagung-agungkan bangsa Belanda.   
“Sebagai satu-satunya negara yang kehadirannya di Sumatera sudah mantap dan berhasil menempatkan wilayah-wilayah lainnya di pulau itu di bawah kekuasaan ataupun pengawasnya, maka Negeri Belanda selama dasawarsa kedua dari abad ke - 19, telah terpaksa untuk mengambil langkah- langkah guna menjamin keselamatan pedagang asing di Aceh. Dalam 1824 Pemerintah Belanda tanpa mempertimbangkan akibat-akibatnya mengadakan perjanjian dengan Inggris Raya di mana ia menjamin keamanan perdagangan dan pelayaran di Aceh — dengan penduduknya yang fanatic dan penuh tipu muslihat, perusuh dan suka perang yang tidak dikenal di kalangan ras-ras lainnya di Nusantara ini di samping mereka sendiri terus menerus saling memerangi — dan ditambah dengan satu syarat lagi (yang menyebabkan perjanjian itu tak mungkin dilaksanakan) bahwa ia akan menghormati kemerdekaan negeri itu.”
                      
Penulisan sejarah Hindia Belanda yang tertua dapat disebut pada buku-buku harian kapal yang pada zaman keemasan dicetak dalam jumlah yang besar dan banyak dibaca. Kini buku-buku tersebut diterbitkan kembali dengan lengkap oleh Van Linschoten Vereeniging. Suatu kisah umum yang pertama tentang kegiatan-kegiatan VOC pada masa permulaan terdapat dalam buku Begin ende voortganck van de vereenigde Nederlandsche Geoctroyeerde Oost-Indische Compagnie. Walaupun pelajar-pelajar ke Hindia (Oostinjevaarders) tidak datang untuk belajar melainkan untuk berdagang, sebagian besar dari mereka tidak bisa menghindarkan diri dari mencatat beberapa keterangan tentang berbagai hal yang aneh yang mereka lihat dan dengar. Sangatlah menarik perhatian betapa ekstensifnya surat-surat resmi kompeni dan penuh dengan keterangan-keterangan etnografis dan historis. Tetapi sayang sekali dokumen ini kebanyakan berada dalam arsip. Hanya beberapa dokumen saja yang dikeluarkan dalam zaman Campagnie itu juga seperti buku Van Goen tentang pulau Jawa. Buku yang pertama dalam jenisnya ini justru menceritakan pegawai kompeni yang sejati, penuh perhatian pada masyarakat pribumi yang menakjubkan.

D.        Karakteristik  Historiografi Kolonial pada masa Hindia Belanda
Secara umum ada tujuan tertentu mengapa orang belanda menulis sejarah, khususnya di Indonesia. Tujuan itu diantaranya yaitu tujuan politis dan tujuan ilmu pengetahuan. Tujuan politis yaitu Belanda mencoba meremehkan peranan orang pribumi kepada bangsa Indonesia dan yang ditonjolkan adalah tokoh-tokoh dari Belanda sendiri. Sedangkan tujuan ilmu pengetahuan adalah untuk mengetahui seluk beluk daerah jajahan dan memahami karakter orang-orang di daerah jajahan.
Pembuatan historiografi ini dimaksudkan untuk dijadikan sebagai bahan laporan pada pemerintah kerajaan Belanda, sebagai bahan evaluasi menentukan kebijakan pada daerah kolonial. Oleh karena itu motivasinya adalah sebagai bahan laporan maka yang ditulisnya pun adalah sejarah dan perkembangan orang-orang asing di daerah kolonial khususnya Indonesia. Sangat sedikit hasil historiografi kolonial yang menceritakan tentang kondisi rakyat jajahan.
Historiografi kolonial dengan sendirinya menonjolkan peranan bangsa Belanda dan memberi tekanan pada aspek politis, ekonomis dan institusional. Hal ini merupakan perkembangan secara logis dari situasi kolonial dimana penulisan sejarah terutama mewujudkan sejarah dari golongan yang dominan beserta lembaga-lembaganya. Interpretasi dari jaman kolonial cenderung untuk membuat mitologisasi dari dominasi itu, dengan menyebut perang-perang kolonial sebagai usaha pasifikasi daerah-daerah, yang sesungguhnya mengadakan perlawanan untuk survival masyarakat serta kebudayaannya.
Ciri dari historiografi kolonial masa Hindia Belanda adalah memiliki sifat Eropa Sentris atau yang lebih fokusnya adalah Belanda Sentris. Boleh dikatakan bahwa sifat ini memusatkan perhatiannya kepada sejarah bangsa Belanda dalam perantauannya, baik dalam pelayarannya maupun permukimannya di benua lain. Jadi yang primer ialah riwayat perantauan atau kolonisasi bangsa Belanda, sedangkan peristiwa-peristiwa sekitar bangsa Indonesia sendiri menjadi sekunder. Sumber-sumber yang dipergunakan ialah dari arsip negara di negeri Belanda dan di Jakarta (Batavia). Pada umumnya tidak menggunakan atau mengabaikan sumber-sumber Indonesia. Fokus pembicaraannya adalah bangsa Belanda, bukanlah kehidupan rakyat atau kiprah bangsa Indonesia di masa penjajahan Belanda. Itulah sebabnya sifat pokok dari historiografi kolonial ialah Eropa sentries atau Belanda sentris. Uraian utama yang dibentangkan secara panjang lebar adalah aktivitas bangsa Belanda, pemerintahan kolonial, aktivitas para pegawai kompeni (orang-orang kulit putih), seluk beluk kegiatan para gubernur jenderal dalam menjalankan tugasnya di tanah jajahan, yakni Indonesia. Aktivitas rakyat tanah jajahan (rakyat Indonesia) diabaikan sama sekali.

E.         Kelebihan dan Kelemahan Historiografi Kolonial
1.    Kelebihan Historiografi Kolonial
Tidak disangkal bahwa historiografi masa kolonial turut memperkuat proses naturalisasi historiografi Indonesia. Terlepas dari subyektifitas yang melekat, sejarawan kolonial berorientasikan fakta-fakta dan kejadian-kejadian. Kekayaan akan fakta-fakta sungguh mencolok. Pembicaraan mengenai perkembangan historiografi Indonesia tidak dapat mengabaikan literatur historiografis yang dihasilkan oleh sejarawan kolonial.

2.    Kelemahan Historiografi Kolonial
a.      Subyektifitas Tinggi Terhadap Belanda
Subyektifitas begitu melekat pada historiografi masa kolonial. Sejarawan kolonial pada umumnya deskripsinya berorientasikan pada kejadian-kejadian yang menyangkut orang-orang Belanda, misalnya dalam sejarah VOC. Banyak kupasan-kupasan yang menekankan ciri yang menonjol yaitu Nederlandosentrime pada khususnya dan Eropasentrisme pada umumnya.
Apabila kita mengingat banyaknya perlawanan selama abad 19, baik yang berupa perang bersekala besar (Perang Padri, Perang Diponegoro, dan Perang Aceh) maupun yang bersekala kecil yang dilakukan oleh rakyat disebut rusuh atau brandalan. Seperti pemberontakan di Cilegon, Gedangan, Jambi, Cimareme. Sejarah perang kolonial terutama menguraikan berbagai operasi militer secara mendetail, sedangkan bangsa Indonesia hanya disebut sebagai obyek dari aksi militer itu.

b.    Kekurangan Kualitatif dari Sejarawan-Sejarawan Kolonial
Kebanyakan buku tentang sejarah kolonial mempunyai hal-hal yang kaku dan dibuat-buat. Buku-buku yang seluruhnya ditulis dari ruang studi di Belanda dan hampir seluruhnya membahas Gubernemen dan pejabat-pejabatnya dan orang-orang pribumi yang kebetulan dijumpai. Hanya sedikit dibicarakan tentang rakyat yang berfikir, yang merasa dan bertindak dan hampir tidak seorang pun yang berusaha meneliti syair-syair, hikayat, babad, dan sejarah. Apa yang menjadi pertimbangan dan pendapat mereka karena kebanyakan sejarawan Campagnie hampir tidak menceritakan akan adanya tulisan-tulisan pribumi atau menilainya terlalu rendah. Mereka malu akan bahan-bahannya baik orang Eropa maupun orang pribumi dikritik. Bahwa keadaannya jauh lebih baik dan hal ini membenarkan kehadiran orang-orang Eropa sekarang.
c.    Kekurangan Kuantitatif
Setelah masa kompeni relatif sedikit karya-karya yang diterbitkan yang disebabkan oleh sistem kerahasian yang fatal dan yang berlaku pada masa itu dan pergawasan yang menurun terhadap jajahan pada abad ke-18. Berdasarkan jumlah bahan arsip yang banyak, hanya sedikit saja yang merupakan sumber terbuka. Cukup besar keuntungan kita apabila mempunyai penerbit dari Generalie Missiven atau laporan-laporan kolonial yang dititipkan setiap tahun, satu atau beberapa exemplar pada kapal-kapal yang berlayar pulang. Tidak hanya mengenai sejarah Hindia Belanda melainkan juga tentang sejarah Asia dan Afrika. Kita saat ini hanya memiliki suatu penerbitan yang sangat tidak lengkap dari missiven yang dikumpulkan oleh ahli arsip kerajaan, de Jonge memiliki hubungan Indonesia. Penerbit ini dicetak atas kertas yang buruk sekali, sehingga penerbit ini tidak akan bertahan lama hal ini merupakan salah satu contoh kesulitan yang di hadapi seorang sejarahwan kompeni. Jumlah buku tentang sejarah Indonesia sangatlah minim.

Jadi dapat disimpulkan Historiografi Kolonial merupakan penulisan sejarah yang ditulis oleh orang Belanda dan penulisannya lebih kepada Eropasentris dan Nedelanosentris. Ciri dari historiografi kolonial ini adalah tentang sejarah dan perkembangan kolonisasi Belanda pada daerah jajahan (Indonesia). Pada masa penjajahan penulisan sejarah diperlukan oleh Belanda untuk dijadikan sebagai tujuan politis dan juga sebagai tujuan ilmu pengetahuan. Dan harus disadari juga dengan adanya penulisan sejarah pada masa Kolonial dapat dijadikan sumber untuk penulisan sejarah bangsa Indonesia setelah mencapai kemerdekaan. Karena yang merekam semua peristiwa sejarah pada masa itu adalah orang-orang Belanda yang ada di Indonesia.


DAFTAR PUSTAKA
Kuntowijoyo. 1995. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta.  Yayasan Bentang Budaya
Kuntowijoyo. 2003. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Snouck Horgronje. Tejemahan. 1985. Aceh dimata Kolonialis. Jakarta : Yayasan Soko Guru.





Motivasi dalam Belajar

MOTIVASI DALAM BELAJAR
Oleh : Oga Umar Dhani

A.    Latar Belakang
Manusia merupakan makhluk yang hidup, makhluk yang berkembang dan  makhluk yang aktif. Manusia dalam berbuat dan bertindak selain terikat oleh faktor-faktor yang datang dari luar juga ditentukan oleh faktor-faktor dari dalam organisme yang bersangkutan, yaitu berupa kekuatan yang datang dari organisme yang bersangkutan yang menjadi pendorong dalam tindakan. Kalau orang ingin mengetahui mengapa orang berbuat atau berprilaku kearah sesuatu seperti yang telah dikerjakan, maka orang tersebut akan terkait dengan motivasi atau perilaku yang termotivasi. Karena motivasi merupakan keadaan dalam diri individu atau organisme yang mendorong perilaku ke arah tujuan. Begitu juga dalam proses belajar mengajar terhadap peserta didik sangat dibutuhkan motivasi untuk menambah minat peserta didik dalam belajar.

B.     Kesadaran Tentang Pentingnya Motivasi Dalam Belajar
Pada umumnya motivasi mempunyai sifat siklas (melingkar), yaitu motivasi timbul, memicu perilaku tertuju kepada tujuan (goal), dan akhirnya setelah tujuan tercapai, motivasi itu berhenti. Tetapi itu akan kembali ke keadaan semula apabila ada sesuatu kebutuhan lagi. Oleh karena itu motivasi sangat dibutuhkan oleh peserta didik supaya tujuan dari proses pembelajaran itu tercapai dengan sempurna. Karena pada hakikatnya manusia selalu melakukan sesuatu melalui dorongan baik dari dalam maupun dari luar dirinya. Dalam melakukan sesuatu pasti ada yang mendasarinya. Begitu juga dalam proses belajar mengajar, orang belajar karena didorong oleh suatu kekuatan didalam atau dari luar dirinya yang menyuruh melakukan kegiatan belajar.
Dalam proses belajar mengajar seorang guru sering menemukan siswanya yang tidak aktif, tidak terlibat dalam proses pembelajaran, tidak memusatkan perhatian pada materi yang sedang di bicarakan dan tidak terikat pada tujuan pembelajaran. Hal seperti ini sangat membutuhkan bagaimana cara memotivasi anak didik untuk belajar. Karena anak-anak seperti ini sangat membutuhkan perhatian guru. Dan guru dituntut untuk tidak diam jika ada sebagian anak didiknya yang tidak termotivasi dalam belajar. Karena apabila siswa termotivasi untuk belajar maka ia akan benar-benar belajar begitu juga sebaliknya.
Dalam proses belajar mengajar motivasi sangat penting dilakukan terhadap peserta didik, karena untuk memotivasi siswa dalam belajar ada berbagai teknik bisa dilakukan seperti meberi penghargaan, peranan-peranan kehormatan, piagam-piagam prestasi, dan  pujian untuk mendorong peserta didik agar mau belajar.
Winkel (1984) menyatakan bahwa guru (disini menekankan guru SLTP dan guru SLTA) harus berusaha mengembangkan motivasi pada diri siswa, terutama motivasi dari dalam dirinya. Walaupun tidak mudah untuk mengembangkan motivasi dari dalam diri siswa, guru dapat melakukan berbagai upaya seperti berikut :
a.  Menjelaskan mengapa suatu pelajaran diajarkan dan apa kegunaannya untuk kehidupan kelak.
b.  Menunjukkan antusiasme dalam mengajarkan pelajaran yang dipegang dan menggunakan teknik-teknik pembelajaran yang sesuai.
c.  Menyajikan bahan pelajaran yang tidak terlalu mudah tetapi juga tidak terlalu sulit.
d.  Menjaga disiplin belajar di dalam kelas.
e.  Memberitahukan kepada siswa secepat mungkin hasil penilaian terhadap tugas-tugas mereka.
Namun begitu Winkel juga menyatakan bahwa siswa masih dapat digerakkan oleh insentif-insentif baik berupa pujian atau celaan yang digunakan dengan tepat.
            Untuk itu kesadaran tentang pentingnya motivasi  tidak hanya di sekolah saja. Orang tua atau keluarga pun menyadari pentingnya motivasi dalam proses belajar anak, sehingga mereka berusaha memotivasi anak-anak mereka untuk belajar. Jadi dapat dikatakan bahwa kesadaran tentang pentingnya motivasi dalam proses belajar telah dimiliki oleh pendidik, orang tua dan masyarakat.
Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tak akan mungkin melakukan aktivitas belajar. Hal ini disebabkan karena sesuatu yang akan dikerjakan itu tidak menyentuh kebutuhannya. Segala sesuatu yang menarik minat orang lain belum tentu menarik minat orang tertentu selama sesuatu itu tidak bersentuhan dengan kebutuhannya.

C.     Pengertian Motivasi
Secara garis besar motivasi dapat diartikan keadaan dalam individu yang mendorong perilaku kearah tujuannya. Namun disini juga dikemukakan beberapa pengertian motivasi oleh para ahli seperti Saiful Bahri Djamarah menyatakan  bahwa motivasi adalah suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang kedalam bentuk aktifitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu.
            Motivasi adalah suatu perubahan  energi didalam pribadi seseorang  yang ditandai dengan timbulnya afektif ( perasaan ) dan reaksi untuk mencapai tujuan. Perubahan energi dalam diri seseorang itu berbentuk suatu aktivitas, maka seseorang mempunyai motivasi yang kuat untuk mencapainya dengan segala upaya yang dapat dilakukan untuk mencapainya.
Ada tiga hal  defenisi mnengenai motivasi menurut Mc Donald, yaitu :
1.      Motivasi dimulai dengan suatu perubahan  tenaga dalam diri seseorang.
Kita berasumsi, bahwa setiap perubahan motivasi mengakibatkan beberapa perubahan tenaga didalam system neuro fisiolagis manusia walaupun banyak motif yang kepastian hakikat organis  dari perubahan tenaganya tidak diketahui, misalnya dasar organis dari keinginan untuk dihargai dan diakui yang tidak dapat diterangkan, tetapi dapat di asumsikan. Sedangkan dasar organis dari beberapa perubahan tenaga lainnya dapat diketahui, misalnya pada haus, lapar dan lelah.
2.      Motivasi ditandai oleh dorongan afektif ( perasaan )
Dorongan afektif yang kuat, sering nyata dalam tingkah laku. Misalnya kata-kata kasar, bentakan, suara nyaring/teriakan, pukulan ke meja dan sebagainya. Di lain pihak adapula dorongan afektif yang sulit untuk diamati.  Misalnya anak yang dengan tenang-tenang duduk bekerja dimejanya, tampak kurang nyata dorongan afektifnya, padahal ia mempunyai dorongan kuat berupa manifestasi perubahan psikologis yang terjadi didalam dirinya.
3.      Motivasi ditandai oleh reaksi-reaksi mencapai tujuan.
Orang yang termotivasi, membuat reaksi-reaksi yang mengarahkan dirinya kepada usaha mencapai tujuan, untuk mengurangi ketegangan yang ditimbulkan oleh perubahan tenaga didalam dirinya. Dengan perkataan lain, motivasi  memimpin kearah reaksi-reaksi mencapai tujuan, misalnya untuk dapat dihargai dan diakui oleh orang lain.
Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tak akan mungkin melakukan aktivitas belajar. Hal ini dikarenakan tingkah laku manusia dibangkitkan  dan diarahkan oleh kebutuhan-kebutuhan tertentu, seperti kebutuhan psikologis, rasa aman, rasa cinta, penghargaan aktualisasi diri, mengetahui dan mengerti, dan kebutuhan estetik. Kebutuhan-kebutuhan inilah menurut Maslow yang mampu memotivasi tingkah laku individu. Oleh karena itu,apa yang seseorang lihat belum tentu akan membangkitkan minatnya sebelum apa yang ia lihat itu mempunyai hubungan dengan kepentingannya sendiri.

1.      Motivasi Instrinsik dan Ekstrinsik
a.       Motivasi Instrinsik
Yang dimaksud dengan motivasi instrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu diransang dari luar, karena dalam setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Motivasi instrinsik bila tujuannya sesuai dengan situasi belajar dan bertemu dengan kebutuhan dan tujuan anak didik untuk menguasai nilai-nilai yang terkandung didalam pelajaran itu. Disebut anak didik memiliki motivasi intrinsik bila ia termotivasi untuk belajar semata-mata untuk menguasai nilai-nilai yang terkandung dalam bahan pelajaran, bukan karena keinginan lain seperti ingin mendapat pujian, nilai yang tinggi, atau hadiah dan sebagainya. Instrinsik sulit sekali melakukan aktivitas belajar terus-menerus. Seseorang yang memiliki motivasi intrinsik selalu ingin maju dalam belajar. Keinginan itu dilatar belakang oleh pemikiran  yang positif, bahwa semua mata pelajaran yang dipelajari sekarang akan dibutuhkan dan sangat berguna kini dan dimasa mendatang. Seseorang yang memiliki minat yang tinggi untuk mempelajari suatu mata pelajaran, maka ia akan mempelajarinya dalam jangka waktu tertentu.  Seseorang itu boleh dikatakan memiliki motivasi untuk belajar. Motivasi itu muncul karena ia membutuhkan sesuatu dari apa yang di pelajarinya. Motivasi memang berhubungan dengan kebutuhan seseorang yang memunculkan kesadaran untuk melakukan aktivitas belajar. Oleh karena itu minat adalah kesadaran seseorang bahwa suatu objek, seseorang, suatu soal atau suatu situasi ada sangkut paut dengan dirinya.
Maka yang mempunyai motivasi intrinsik ia akan cenderung menjadi orang yang terdidik, yang berpengetahuan, yang mempunyai keahlian dalam bidang tertentu dan tentunya gemar dalam belajar.

b.         Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar. Motivasi belajar di katakan ekstrinsik bila anak didik menempatkan tujuan belajarnya di luar faktor-faktor situasi belajar. Anak didik belajar karena hendak mencapai tujuan yang terletak di luar hal yang dipelajarinya. Misalnya, untuk mencapai angka tinggi, gelar, kehormatan   dan sebagainya. Motivasi ekstrinsik bukan berarti motivasi yang tidak diperlukan dan tidak  baik dalam pendidikan. Motrivasi ekstrinsik diperlukan agar anak didik mau belajar. Berbagaima cara bisa dilakukan agar anak didik termotivasi untuk belajar. Guru yang berhasil mengajar adalah guru yang panda membangkitkan minat anak didik dalam belajar, dengan memanfaatkan motivasi ekstrinsik dalam berbagai bentuknya. Kesalahan penggunaan bentuk-bentuk motivasi ekstrinsik akan merugikan anak didik. Akibatnya motivasi ekstrinsik bukan berfungsi sebagai pendorong, tetapi menjadikan anak didik malas belajar. Karena itu, guru harus bisa dan pandai   proses interaksi edukatif di kelas.
Motivasi ekstrinsik sering digunakan karena bahan pelajaran kurang menarik perhatian anak didik atau karena sikap tertentu pada guru atau orang tua. Baik motivasi ekstrinsik yang positif maupun motivasi ekstrinsik yang negatif, sama-sama mempengaruhi sikap dan perilaku anak didik. Diakui, angka, ijazah, pujian, hadiah dan sebagainya berpengaruh positif dengan merangsang anak didik untuk giat belajar.

D.    Kesimpulan
Dalam proses belajar megajar motivasi sangat dibutuhkan baik guru maupun untuk anak didik itu sendiri. Karena dengan adanya motivasi maka semangat untuk belajar jadi tinggi, dan untuk membangkitkan motivasi tersebut bisa dilakukakan dengan berbagai teknik seperti memberi hadiah, pujian, piagam, dan lain-lain. Karena motivasi sifatnya itu melingkar seperti lingkaran maka motivasi itu harus dilakukan terus menerus ketika tujuannya tercapai.

DAFTAR PUSTAKA
Nurhasanah dan Amirruuzzahri. 2009. Modul Psikologi Pendidikan. Program Pendidikan Guru Kejuruan Universitas Syiahkuala. Banda Aceh.
Walgito, Bimo. 2003. Pengantar Psikologi Umum. ANDI. Yogyakarta.